Terbentuk  Jakarta 1964

Anggota    : Dimas Wahab

Djoko Susilo

Sum

Gun

Fuad Hasan

Image

Orkes Medenasz adalah band pengiring yang terkenal dari Jakarta pada awal era 60an yang dipimpin oleh Dimas Wahab .Awalnya mereka ini adalah para siswa SMA Boedi Oetomo Djakarta yang sama sama memiliki hobi bermain musik.

Medenazs terdiri atas (gitar), Djoko (drums),Gun (bass) dan Sum (gitar).Sebetulnya Orkes Medenzs memiliki seorang penyanyi yaitu Djoko Susilo.Sayangnya Djoko mendapat musibah saat  ditembak seorang perampok di jalan Cimandiri, Cikini, tahun 1964.

Fuad Hasan yang kemudian dikenal sebagai drummer God Bless era 70an juga pernah mendukung Orkes Medenazs ini.

Nama Medenazs diambil dari bahasa Papua yang artinya bayangan.Diduga nama ini mengacu pada nama  band The Shadows -nya Hank Marvin yang juga berarti bayangan.

Saat itu banyak band band pengiring yang menempatkan The Shadows sebagai inspirasi utama mereka.Orkes Medenazs terbentuk pada tahun 1964 dan telah mengiringi berbagai penyanyi seperti Ernie Djohan,Liesda Djohan,Rossy, dan masih banyak lagi

Denny Sakrie

Advertisements

Fuad Hasan

Nama Lengkap  Fuad Hasan

Nama Pop          Fuad Hasan

Lahir                    Yogyakarta 24 Agustus 1942

Meninggal          Jakarta  9 Juli 1974

Fuad Hasan adalah salah satu drummer terbaik Indonesia mulai dari era 60an hingga 70an.Musik yang dimainkanya pun beragam mulai dari pop hingga rock.Pemusik turunan Arab ini juga dikenal sebagai penggemar sepakbola.

Mulai bermain drum saat bergabung dengan band Pandawa di tahun 1962 atas ajak Amin Ivo .Setahun berselang Zaenal Arifin mengajak Fuad ikut bergabung dalam Zaenal Combo dan menjadi band pengiring dalam berbagai rekaman maupun tampil di pentas pentas pertunjukan.

Di tahun 1964 bassist Dimas Wahab mengajak Fuad bergabung dalam band Medenaz yang antara lain mengiringi penyanyi pop Ernie Djohan dan Liesda Djohan di album rekaman. Tahun 1965 Fuad bergabung bersama May Sumarna dan Imran dalam band Diselina.Band ini merupakan cikal bakal dari The Steps kelak.

Tahun 1966 hingga 1968 kembali Dimas Wahab mengajak Fuad Hasan menjadi drummer dalam The Pro’s, band yang dibentuk Dimas dan didukung oleh Pertamina.Bersama The Pro’s Fuad ikut mengiringi Bob Tutupoly dan Broeery Marantika di bilik rekaman.

Tahun 1968 Fuad Hasan bertolak ke Eropah, ketika bermukim di Italia Fuad sempat menjadi drummer band Black Bird.

Tahun 1971 Fuad Hasan kembali ke Jakarta dan nongkrong di rumah Keenan Nasution di Jalan Pegangsaan Barat 12 A Menteng Jakarta Pusat.Saat itu Fuad sering ikutan bermain bersama Gipsy Band.Bahkan kerapkali  Gipsy tampil dengan dua drummer yaitu Fuad Hasan dan Keenan Nasution.

Di tahun 1971 Fuad membentuk Abstract Club Band dan mengajak penyanyi jazz Margie Segers sebagai vokalis utama.Di album Abstract Club Band yang dirilis Remaco ini, Fuad tak hanya bermain drum tapi menulis beberapa komposisi lagu seperti Manisku,Angin Selatan ,Pantai Sanur,Malam Sunyi.Fuad pun menulis lagu bersama Margie Segers bertajuk That’s Life.Yang menarik adalah reinterpretasi atas karya Lennon McCartney “Fool On The Hill”. Sayangnya band ini hanya merilis satu album saja dan tak terdengar lagi kiprahnya.

Tahun 1973 Achmad Albar yang baru kembali dari Belanda mengajak Fuad bergabung dalam God Bless, grup rock yang terdiri atas Achmad Albar (vokal),Donny Gagola (bass),Yockie (keyboard) dan Ludwig LeMans.Di tahun 1973 Deddy Dorres mengajak Fuad Hasan mendukung band The Road yang terdiri atas Donny Gagola dan Ludwig LeMans.The Road sempat rilis satu album bertajuk “Tinggal Kenangan”  di tahun 1973 pada label Purnama Record.

Pada tanggal 9 Juli 1974 Fuad Hasan mengendarai sepeda motor berboncengan dengan Soman Lubis, mantan pemain keyboards God Bless untuk pergi latihan bersama God Bless di rumah Keenan Nasution.Naas,pada saat berada di sekitar Pancoran motor yang dikendarai Fuad Hasan dan Soman Lubis mengalami kecelakaan lalu lintas.Motor Fuad remuk tergilas truk.Fuad Hasan dan Soman Lubis akhirnya meninggal dunia.Sebuah tragedi yang menyesakkan dada.

Denny Sakrie

Fuad Hasan

Fuad Hasan (Foto Aktuil)

Nama Lengkap    : Fariz Rustam Munaf

Nama Pop            : Fariz RM

Lahir                    : Jakarta, 5 Januari 1958

Fariz Rustam Moenaf adalah pemusik serba bisa.Terampil bermain drum,keyboard,gitar,bass,menyanyi,menulis lagu,arranger.Semuanya komplit.

Fariz, yang akrab dipanggil Bule ini, dengan luwes berlenggang dari satu jenis musik ke jenis musik lainnya. Dia membawakan tema disko, jazz, rock, blues, hingga new age, tanpa sedikit pun terkesan “maksa”. Ini salah satu keunggulan putra bungsu pasangan Roestam Moenaf dan Anneke Moenaf itu yang rasanya jarang dimiliki pemusik negeri ini. “

 Pergaulan Fariz dengan lingkungan pemusik Pegangsaan seperti Nasution Bersaudara dan Chrisye mau tidak mau membuat wawasan musiknya semakin bertambah. Apalagi ketika duduk di bangku SMA III, Jakarta, Fariz bersama teman-temannya seperti Raidy Noor, Adjie Sutama, Addie M.S., dan Iman R.N. bernaung di bawah Vocal Group SMA III, yang sempat berprestasi di ajang Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors Rasisonia 1977. Tiga lagu karya anak SMA III, yaitu Angin, Akhir Sebuah Opera, dan Di Malam Sang Sukma Datang, berhasil masuk 10 besar lagu terbaik.

Tahun 1977 Fariz RM diajak Chrisye mendukung album Badai Pasti Berlalu sebagai drummer.Disini Fariz mulai berkenalan dengan Eros Djarot dan Yockie Surjoprajogo.

Dari rentang 1977 hingga sekarang, ada benang merah yang bisa ditarik dari perjalanan musikal Fariz: eksplorasi dan semangat berkolaborasi. Dua hal inilah yang memicu karya-karyanya bak puspa ragam. Ia termasuk “berani” melakukan hal-hal musikal yang sebelumnya tak pernah dijangkau orang. Bakat musiknya terligat sejak dini .Sejak usia delapan tahun telah belajar piano klasik pada Prof. Charlotte J.P., guru piano ibunya.

Di tahun 1978 Fariz RM diajak bergabung dalam Badai Band yang terdiri atas Chrisye (bass,vokal),Yockie Surjoprajogo (keyboards),Keenan Nasution (drums),Oding Nasution (gitar) dan Roni Harahap (piano).

Tahun 1979 saat Fariz kuliah di Jurusan Seni Rupa ITB Bandung, dia bergaul dengan komunitas Harry Roesli di Jalan WR Supratman 57 Bandung.Fariz sempat tergabung dengan kelompok vokal Kharisma yang diasuh Harry Roesli.Fariz sempat menjadi pemusik additional dalam grup rock Giant Step.Bersama gitaris Harry Soebardja,Fariz menggarap album solo Harie Dea,anggota kelompok vocal Balagadona Bandung.Bahkan Fariz ikut mendukung album solo Benny Soebardja.  

Sosoknya mulai dilirik orang ketika merilis album Sakura (Akurama, 1980), yang semuanya dilakukannya sendiri. Bayangkan, di album ini, dengan sistem rekam overdubbed, Fariz memainkan berbagai instrumen, seperti drum, kibor, gitar, bas, perkusi, sendirian. Bisa jadi Fariz terinsiprasi Stevie Wonder atau Mike Oldfield, pemusik yang bermain tunggal dalam sejumlah album rekamannya. Warna musiknya pun fresh dan groovy.

Di saat tren musik di negeri ini masih terbuai dalam balada yang mendayu-dayu, Fariz malah menawarkan konsep musik yang danceable ala Earth Wind & Fire dengan penonjolan pada aransemen brass section sebagai aksentuasi dan teknik bernyanyi falsetto. Setahun kemudian, Fariz R.M. membentuk grup Transs, yang personelnya antara lain Erwin Gutawa, pemusik yang sekarang banyak dikaitkan dengan aransemen berbau orkestral. Dengan Transs, Fariz menawarkan konsep musik fusion, yang akhirnya membuat sejumlah grup musik terinspirasi untuk menggarap musik fusion, yang memadukan jazz dan rock. Transs adalah grup yang maunya beridealisme tinggi. Ini terlihat dari kalimat yang tertera pada sampul album Transs, Hotel San Vicente (1981): “pembaharuan musik Indonesia dalam warna, personalitas, dan gaya”. Boleh jadi kalimat itu berkonotasi gagah-gagahan belaka. Namun patut diakui, sejak pemunculan Transs, mulailah muncul grup-grup fusion seperti Krakatau, Karimata, Emerald, dan lain-lain.

Tak cukup setahun, Fariz telah siap dengan formasi Symphony, grup yang banyak memainkan warna new wave dengan mengandalkan tekstur bunyi synthesis seperti yang dimainkan The Police atau Duran-Duran. Di tahun 1983, Fariz menggandeng Iwan Madjid dan Darwin B. Rachman dalam Wow. Kali ini mereka memainkan musik rock progresif, yang mengacu ke grup musik rock progresif legendaris Yess dan Emerson Lake and Palmer.

Fariz lalu berbaur dengan pemusik jazz, antara lain berguru dengan almarhum Jack Lesmana. Bersama Candra Darusman, Fariz ikut mendukung kelompok jazz Lima Sekawan, yang kerap tampil di TVRI pada acara Nada & Improvisasi yang digagas Jack. Bahkan Fariz sempat membentuk grup GIF (Gilang Ramadhan, Indra Lesmana, Fariz R.M.) di pertengahan tahun 1980-an. Trio ini sempat tampil dalam album solo Indra Lesmana, Tragedi (1985). Ia juga membuat album pop jazz untuk penyanyi jazz Jacky, Gairah Baru (1980), dengan menggaet pemain drum jazz Karim Suweilleh. Dalam catatan, Fariz telah menghasilkan lebih dari 15 album solo serta sekitar 90 lebih album dalam bentuk grup ataupun kolaborasi serta genre musik yang berbeda. Dia juga ikut menggarap musik sejumlah album penyanyi solo, dari Emilia Contessa, Achmad Albar, Andi Meriem Mattalata, Nourma Yunita, Delly Rollies, Jimmy Manoppo, Gito Rollies, dan sederet panjang lainnya. Fariz pun tercatat paling banyak melakukan duet dengan penyanyi wanita seperti Iis Sugianto, Anita Carolina Mohede, Neno Warisman, Marissa Haque, Nourma Yunita, Renny Jayoesman, Yanti Noor, Titi D.J., Malyda, termasuk Janet Arnaiz, penyanyi dari negeri tetangga Filipina.

Denny SakrieImage

Wedhasmara

Wedhasmara

Nama Lengkap  : I Gusti Putu Gedhe Wedhasmara

Nama Pop          : Wedhasmara

Lahir                   : Denpasar ,10 September 1932

Wedhasmara adalah komposer lagu-lagu pop Indonesia era 60an hingga 70an .Karya-karyanya dikenal luas seperti Sendja Di Batas Kota,Berpisah Di St Carolous, Kau Selalu Di Hatiku dan masih banyak lagi. Penyanyi penyanyi yang menyenandungkan lagu-lagu Wedhasmara antara lain Ernie Djohan,Titiek Sandhora,Tetty Kadi,Deasy Arisandi hingga Lilies Surjani.

Sejak kecil telah menyukai dan memiliki bakat musik yang kuat.Setelah menyelesaikan jenjang pendidikan SMP di Denpasar Bali.Wedhasmara kemudian pindah ke SMA St.Thomas di Daerah Istimewa Yogyakarta. Antara tahun 1956 – 1963 Wedhasmara bekerja di Jawatan Pertanian Jakarta.

Bakat musiknya tersalurkan ketika ikut tergabung dalam berbagai kelompok musik seperti Orkes Gabungan Denpasar,Orkes Keroncong Denpasar,Kuartet Mulyana/Sutedja Yogyakarta,Orkes Kerontjong pimpinan Sukmini Yogyakarta,Orkes Melayu Ria Bluntas pimpinan M.Sagi,Zaenal Combo pimpinan Zaenal Arifin hingga Empat Nada pimpinan Jadin/A.Riyanto.

Denny Sakrie

Terbentuk  1976 di Bandung, Jawa Barat

Genre           Folk/Pop

Personil      Raymond Pattirane

Jefferey Pattirane

Bram Manusama

Denny Hatami

Ketut Riwin

Dianne Carruthers

Ary Malibu

 

Karena begitu menjamurnya kegiatan vokal grup yang berlangsung dari Sabang hingga Merauke, akhirnya muncullah sebuah ajang yang kemudian memasukkan vokal grup sebagai salah satu bagian dari ajang kompetisi vokal. Pada tahun 1976, untuk kali pertama digelar ajang kompetisi bertajuk Bintang Radio dan Televisi Remaja. Konon, acara ini diadakan untuk lebih menjaring bakat-bakat seni suara dari kalangan anak remaja. Pada akhirnya ajang Bintang Radio & Televisi Remaja 1976 ini memang berhasil menjala sosok penyanyi yang kelak menjadi bagian terpenting dalam konstelasi musik pop di negeri tercinta ini.

Lalu mencuatlah Harvey Malaiholo sebagai Juara 1 Remaja Pria, Rafika Duri sebagai Juara 1 Remaja Wanita, dan Pahama sebagai Juara 1 Vokal Grup. Pahama yang berasal dari Bandung memang pantas didapuk menjadi juara 1. Mereka menyimpan kualitas musik yang lebih dibanding para kontestan lainnya. Arransemen dan harmoni vokal Pahama memang terasa lebih kontekstual dan wajar. Tidak mengada ada.

Dalam Bintang Radio & TV Remaja itu, Pahama yang terdiri dari Raymond Patirane,Jeffrey Pattirane , Denny Hatami, Bram Manusama, dan I Ketut Riwin, membawakan lagu Pergi untuk Kembali karya Minggoes Tahitu, yang berhasil menjadi Juara 1 Festival Lagu Pop Indonesia 1975, dan sebuah lagu rakyat Maluku bertajuk Waktu Hujan Sore-sore.

Penampilan Pahama yang segar, santai, dan seolah tanpa beban berhasil memukau khalayak. Kekompakan dalam mengolah vokal adalah modal utama kelompok yang pemusiknya terdiri dari beragam suku bangsa, seperti Maluku, Sunda, dan Bali.
Kelompok Pahama dibentuk tahun 1975, di saat Bandung tengah diriuhkan dengan menjamurnya kelompok-kelompok vokal, seperti Singing Student atau Double SB, GPL Unpad, Stairway, Mythos, Kharisma Vokal Group, Nobo, dan yang telah mencuat sejak akhir era 1960-an, Bimbo.

Jika Pahama cepat melejit dan dikenal luas, tak perlu diherankan. Mungkin, karena kelompok ini didukung sederet pemusik yang kreatif dan penuh bakat. Raymond Pattirane, misalnya, memang dibesarkan dari keluarga pemusik. John Pattirane, sang ayah, merupakan sosok yang membina dan mengarahkan tata musik, terutama harmonisasi vokal kelompok Bimbo.

Kekerabatan antara Pahama dan Bimbo pun kian erat. Apalagi, ketika Pahama berhasil menjuarai Bintang Radio & TV Remaja bidang Vokal Group, Bimbo telah mengamati secara seksama sepak terjang Pahama. Pada akhirnya Bimbo pun bersedia menggarap produksi album perdana Pahama pada tahun 1977 melalui label Bimbo Recording System. Jaka Harjakusumah dari Bimbo terlibat sebagai penggarap tata musik Pahama. Jaka pun ikut menyumbangkan lagu Nelayan Tua untuk album Pahama.

Di album ini, selain menulis lagu-lagu sendiri, seperti Dari Judul (Denny Hatami),Cinta dan Bahagia (Bram Manusama), dan Oplet Dago (Raymond Patirane), Pahama pun menyanyikan kembali hit karya Minggoes Tahitu yang dipopulerkan Melky Goeslaw pada tahun 1975, Pergi Untuk Kembali, di samping lagu-lagu rakyat, semisal Waktu Hujan Sore-sore.Serta termaktub pula lagu karya Jaka Purnama Hardjakusumah dari Bimbo yaitu Nelayan Tua.
Setahun berselang Pahama merilis album keduanya di Musica Studio, mereka tetap membawakan lagu karya sendiri dan lagu-lagu rakyat. Untuk pertamakali di album keduanya, Pahama menambah formasinya dengan seorang penyanyi wanita bernama Dianne Carruthers yang berasal dari Australia. Dianne merupakan kekasih dari Bram Manusama. Keduanya, Bram dan Dianne, bahkan sempat merilis sebuah album duet yang menyanyikan lagu-lagu karya Jimmie Manoppo, Oetje F Tekol, dan Yance Manusama.

Di tahun 1978, Bram dan Dianne diajak oleh Chris Manuel Manusama, abang Bram yang pernah mendukung grup rock, Tripod dan Hookerman, untuk menyanyikan lagu ciptaannya, Kidung, yang berhasil masuk 10 besar dalam ajang Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors Rasisonia 1978.

Di awal 1980-an, pasangan Bram Manusama dan Dianne Carruthers yang telah resmi menikah sebagai sepasang suami-isteri mengundurkan diri dari Pahama. Mereka lalu bermukim di negeri Kangguru. Kemudian Pahama sering berkolaborasi dengan mantan Puteri Indonesia, Tika Bisono, baik di panggung pertunjukan maupun rekaman.

Satu persatu personel Pahama mulai mundur, seperti gitaris, Ketut Riwin, yang memilih tinggal di Bali. Riwin mengelola sebuah kafe di Legian Bali dan membentu band world music bernama Tropical Transit. Sejak itulah nama Pahama secara perlahan mulai meredup dan menghilang. Pahama sempat tampil bersama Tika Bisono dalam album kemanusiaan bertajuk Suara Persaudaraan (1986) yang digagas komposer James F Sundah.

Raymond Patirane tetap menggeluti musik sebagai guru vokal dan penata vokal di berbagai album rekaman. Ketut Riwin pun tetap bermain musik. Riwin yang nama lengkapnya IGN Ketut Riwiyana, membentuk sebuah grup jazz dengan latar etnik bernama Tropical Transit pada tahun 1991. Kelompok ini masih tetap aktif manggung. Bahkan, salah satu karya Riwin dipakai dalam proyek kolaborasinya dengan perancang busana Ika Mardiana dan penari, I Nyoman Sura, pada event Hong Kong Fashion Week 2006 yang bertemakan Java.

Ditahun 2012 Pahama muncul lagi dengan merilis sebuah album baru serta konser reuni yang berlangsung di Bandung.Pahama kini terdiri atas Raymond Pattirane,Denny Hatami,I Ketut Riwin dan Ary Malibu.

Diskografi

1.Pahama Vol.1 ( Bimbo Recording System – 1977)

2.Pahama Vol.2 (PT Musica Studio’s – 1978)

3.Pahama 2012 – 2012

Denny Sakrie

Pahama Volume 1 Tahun 1977

Pahama Volume 1 Tahun 1977

 

Eka Sapta

Eka Sapta

Terbentuk    : 1 Juni 1962

Genre             : Pop,Instrumental

Anggota        : Bing Slamet

Idris Sardi

Itje Koumunang

Ireng Maulana

Benny Mustafa Van Diest

Darmono

Wiharto

Kiboud Maulana

Enteng Tanamal

Jopie Reinhard Item

Ini adalah band Eka Sapta dari kiri Benny Mustafa van Diest (drums),Bing Slamet (gitarnperkusi ),Ireng Maulana (gitar) dan Idris Sardi (bass,biola).Band pengiring ini muncul karena terinspirasi The Shadows maupun The Venture.Eka Sapta terbentuk pada 1 Juni 1962.Bermula ketika Idris Sardi bermain di Orkes Studio Djakarta (OSD).Disini Idris berkenalan dengan penyanyi/gitaris/komposer Bing Slamet yang berkawan dgn Sjaiful Bachrie pimpinan OSD.Bing dan Idris sama mengimpikan membentuk band berkualitas .Image

Eka Sapta

Nama  Lengkap   : Rada Krisnan Nasution

Nama Pop             : Keenan Nasution

Lahir                       : Jakarta,5 Juni 1952

 

Musik adalah dunia Keenan Nasution.Dia tetap tak terpisahkan dengan dunia yang digemarinya sejak kecil.Ayahnya almarhum Saidi Hasjim Nasution adalah penggemar musik klasik bahkan beliau mampu menggesek dawai biola.Rada Krishnan Nasution demikia ,nama berbau India yang diberikan sang ayah pada Keenan yang lahir pada tanggal 5 Juni 1952.5 dari 6 bersaudara keluarga Nasution yang seluruhnya lelaki kemudian mulai bermain band.Dimulai dari putera kedua Zulham Nasution yang kerap dipanggil Joe Am mulai membentuk band bersama Pontjo Soetowo,Edit,Eddy Odek,Ronald dan Chrisye tetangga mereka di Pegangsaan termasuk putera ketiga Gauri Nasution di tahun 1966 dengan nama Sabda Nada. Di era ini lagu-lagu bertema instrumental gitar tengah mewabah seperti yang digaungkan kelompok The Shadows maupun The Ventures.

TERBENTUKNYA GIPSY

Menjelang akhir era 60-an Sabda Nada bermetamorfosa menjadi Gipsy Band dengan perubahan formasi dengan masuknya Keenan Nasution (drum,vokal),Onan Soesilo (organ),Tammy Daudsyah (flute,saxophone,vokal),almarhum Christian Rahadi (bas,vokal),Gauri Nasution (gitar) dan almarhum Atut Harahap (vokal).Gipsy memang mencoba tampil beda dengan band-band lain yang tengah menjamur di Jakarta.Saat itu Gipsy memilih genre psychedelic dan blues rock dalam repertoarnya.Mereka membawakan repertoar milik Chicago seperti “Low Down”,Keef Hartley dengan “Too Much Thinking” atau “Not Wise Not Foolish” bahkan King Crimson dengan “I Talk To The Wind” yang saat itu memang jarang dimainkan anak band.Citra Gipsy memang menjadi eksklusif,apalagi ketika mereka mulai membawakan “I Will Bring The Flower In The Morning” dari grup Blond hingga “I Love You More Than You’ll Ever Know” serta repertoar Jimi Hendrix.”Saat itu kita pun mulai membawakan lagunya The Allman Brothers Band seperti “Whipping Post” atau “It’s Not My Cross To Bear” ungkap Keenan Nasution yang kini memiliki 7 putera puteri hasil pernikahan dengan penyanyi dan bintang film Ida Royani di tahun 1979.

Rumah dibilangan Pegangsaan memang menjadi komunitas tempat anak muda nongkrong.Bermain band,ngobrol musik sembari menyimak album-album rock yang baru beredar dalam bentuk piringan hitam.Keluarga Saidi Hasjim tak seperti orang tua jaman dulu yang menabukan putera-puteranya bermain musik.
Pola permainan Gipsy yang agak berbeda ini ternyata menyita perhatian pemusik Mus Mualim yang kebetulan bermukim di Jalan Sukabumi,tak jauh dari Jalan Pegangsaan.Mus yang beristerikan Titik Puspa itu malah menggagas ingin berkolaborasi dengan anak-anak Gipsy di pentas Taman Ismail Marzuki (TIM).

Saat itu pula di kediaman keluarga Nasution juga bermukim I Wayan Suparta Widjaja seniman Bali yang pernah menikah dengan bintang film Chitra Dewi.Dari Wayan Suparta inilah Keenan menyerap musik tradisional Bali.Keenan mulai tertarik mempelajari perangai gamelan Bali yang agresif.

GIPSY KE AMERIKA

Di tahun 1972 setelah berpulangnya vokalis Gispy Atut Harahap,mulailah babak baru dalam proses kesenimanan Keenan Nasution dengan diajaknya Gipsy oleh Dirut Pertamina alm Ibnu Soetowo untuk menjadi homeband di Ramayan Restaurant yang berada di kawasan Manhattan New York City,Amerika Serikat.
Dengan formasi yang berubah,bertolaklah Gipsy ke Amerika dengan dukungan Keenan Nasution (drum),Chriatian Rahadi (bas),Rully Djohan (organ),Lulu Soemaryo (saxophone),Gauri Nasution (gitar) dan almarhum Adjie Bandie (biola) mantan personil kelompok Cockpit dan C’Blues. Di Restauran yang dikelola Pertamina itulah Keenan dan kawan –kawan mengasah kemampuan bermusik.Saat itu Gipsy menjadi pengiring penyanyi kawakan Indonesia Bob Tutupoly.

Di kala senggang Keenan berburu piringan hitam dan nonton konser.”Saya mulai mengenal album Genesis di Amerika dan nonton konser Blood Sweat & Tears serta grup art rock Inggeris Yes” jelas Keenan Nasution.Dari menyimak dan menonton konser musik,semakin membenamlah referensi musik pada benak Keenan Nasution.

Kelak referensi musik yang dicernanya di Amerika yang menjadi inspirasi utamanya dalam bermusik. Sepulang dari Amerika pada tahun 1973,Keenan yang mencoba membentuk Gipsy malah ikut mendukung Young Gipsy grup yang dibentuk kedua adik kandungnya Aumar Nauddin Nasution (gitar) dan Debi Murti Nasution (bas dan keyboard) bersama almarhum Narry.

GOD BLESS

Setahun kemudian tepatnya tahun 1973 kedua adik Keenan malah dipinang Achmad Albar dan Donny Gagolla untuk mendukung formasi God Bless yang lowong karena ditinggal Ludwig LeMans dan Deddy Dorres.Tak lama berselang,Keenan malah menyusul kedua adiknya masuk God Bless setelah dua personil God Bless Fuad Hassan (drum) dan Soman Lubis (keyboard) meninggal karena kecelakaan motor di kawasan Pancoran Jakarta.”Padahal sebelumnya malah Fuad meminta saya untuk masuk God Bless,karena dia ingin menjadi manajer band saja” tutur Keenan.
Bergabungnya Nasution Bersaudara dalam God Bless memang sedikit agak mempengaruhi repertoar God Bless diantaranya ketika Achmad Albar mulai membawakan lagu-lagu milik Yes,ELP bahkan Focus.

Sayangnya,mereka bertiga – Keenan,Oding dan Debby,hanya bertahan selama setahun saja bersama God Bless.Padahal di tahun itu God Bless tengah merajai panggung pertunjukan rock negeri ini.

GURUH GIPSY

Keenan sendiri memang ingin mewujudkan obsesi lama : membuat album dengan karya orisinal.Inilah cikal bakal mencuatnya kolaborasi Gipsy dengan Guruh Soekarno Putera. Tersedianya fasilitas studio rekaman 16 track “Tri Angkasa” di kawasan Kebayoran dengan piñata rekam handal Alex Kumara semakin mendekatkan impian Keenan pada titik kenyataan.Apalagi pertemuannya kembali dengan sahabat lamanya Guruh Soekarno Putera yang baru saja kembali dari Amsterdaam Belanda mematangkan konsep musik berupa pembauran musik tradisional Bali dan Rock.Ini terjadi tahun 1975.Berbaurlah Guruh Soekarno Putera,Keenan Nasution,Oding Nasution,Roni Harahap,Christian Rahadi dan Abadi Soesman yang kemudian menghasilkan album fenomenal “Guruh Gipsy” yang dirilis pada akhir tahun 1976 dengan menghabiskan waktu pengerjaan lebih dari setahun.

ERA SOLO KARIR

Setelah proyek Guruh Gipsy selesai,Keenan masih menyimpan sebuah obsesi lagi : bersolo karir.Ini memang sangat memungkinkan.Karena sebetulnya Keenan Nasution adalah sosok seniman musik komplit.Dia menguasai permainan drum,gitar dan piano.Dia pun terampil menggurat komposisi lagu dan disamping menyanyi.”Suara Keenan khas.Dia lebih tegas disbanding Chrisye” komentar Eros Djarot suatu ketika.”Saya menyukai timbre vocal Keenan” timpal Donny Fattah,pencabik bass God Bless. Karena kesengsem dengan qua-vokal Keenan,Donny pun mengajak Keenan Nasution untuk bernyanyi di album “D&R” ,kolaborasi adik kakak antara Donny dan Rudy Gagola pada tahun 1976.Di album yang juga menampilkan penyanyi Achmad Albar,Djatu Parmawati dan Ida Noor ini,Keenan menyanyikan lagu bertajuk “Cindy”,sebuah lagu yang ditulis Donny Fattah bersama Theodore KS yang mengisahkan tentang bayi pertama Donny dan Rini Noor bernama Cindy.

Bersama penulis lirik Rudi Pekerti,Keenan Nasution tertarik untuk ikut dalam Festival Lagu Pop Indonesia pada tahun 1977.Salah satu lagu karya Keenan bersama Rudi Pekerti ternyata masuk final yaitu lagu yang bertajuk “Di Batas Angan-Angan”.Sayangnya,lagu yang diimbuh narasi berbahasa Jepang itu tidak berhasil menjadi juara.Adapun yang menjuarai adalah “Damai Tapi Gersang” yang ditulis oleh mantan Gipsy yaitu almarhum Adjie Bandi.

DI BATAS ANGAN-ANGAN

Angan angan untuk mewujudkan sebuah album solo masih bergaung.Keenan lalu mengajak sahabat-sahabatnya mulai dari Guruh Soekarno Putera,Junaedi Salat,Yanto,Narry,Abadi Soesman,Harry Minggoes,Rudi Pekerti,Trio Bebek serta dua saudaranya Gauri Nasution dan Debby Nasution untuk bahu membahu merampungkan proyek album solo perdananya bertajuk “Di Batas Angan-Angan” yang dirilis Gelora Seni dan Duba Record.Di album ini Keenan pun menyertakan dua anak SMA III sebagai pendukung musiknya : Addie MS dan Fariz RM.

Album ini berhasil melejitkan dua hits yaitu “Nuansa Bening” dan “Zamrud Kahtulistiwa” yang ditulis Guruh Soekarno Putera.
Pada saat yang bersamaan Chrisye pun meluncurkan album solo perdanya “Sabda Alam” pada label Musica Studios yang juga didukung oleh Keenan Nasution (drums),Yockie Soerjo Prajogo (keyboards),Roni Harahap (piano) serta composer Junaedi Salat dan Guruh Soekarno Putera.
Di era ini,focus memang tertuju pada kiprah pemusik yang bermukim di wilayah Pegangsaan terutama ketika di tahun 1977 Eros Djarot bersama dukungan Chrisye,Berlian Hutauruk,Yockie Soerjo Prajogo,Debby Nasution,Fariz RM dan Keenan Nasution berhasil menggebrak industri musik pop Indonesia dengan kehadiran album fenomenal “Badai Pasti Berlalu”.

Sukses dalam kualitas dan kuantitas,membuat sebuah gagasan baru yaitu para pemusik yang terlibat dalam album Badai Pasti Berlalu akan tampil di pentas pentas pertunjukan.Momentum itu bermula ketika mereka diminta tampil pada acara yang digagas Sys NS dkk “Dapur Musik Betawi”.Sys NS dengan seenaknya lalu memberi nama “Badai Band” kepada band yang bermarkas di Pegangsaan tersebut.
Badai Band bahkan tampil dengan iringan orkestra yang dipimpin Idris Sardi dalam konser “Musik Saya Adalah Saya” yang diprakarsai Yockie Soerjo Prajogo di Balai Sidang Senayan Jakarta 1979.

Keenan tampaknya konsisten dalam bersolo karir.Di tahun 1979 Keenan merilis “Tak Semudah Kata Kata” yang didukung oleh Roni Harahap (piano),Chrisye (bas),Oding Nasution (gitar),Jerry Sudiyanto (gitar) serta Rudi Pekerti (penulis lirik) dan Ida Royani (vocal) yang kelak menjadi isterinya.
Pernikahannya dengan Ida Royani di tahun 1979 tak mengungkung visi bermusik Keenan Nasution. Roy Marten bahkan mengajak Keenan untuk mengisi music score film bertema anak muda “Roda Roda Gila” (1979) yang dibintangi Roy Marten,Yati Octavia dan Rudi Salam. Album demi album pun digarap Keenan seperti “Akhir Kelana” (1980),”Beri Kesempatan” (1981),”42nd Street” (1982),”Dara Dara” (1984),”Dulu Lain Sekarang Lain” (1985),”Kupu Kupu Cinta” (1986) dan “Bung Asmara” (1990).

Bersama sang isteri Ida Royani,Keenan sempat merilis dua album duet “My Love” dan “Romansa”. Keenan pun ikut bergabung dalam “Gank Pegangsaan” (1989) kelompok yang diprakarsai Debby Nasution untuk mengajak kembali sederet pemusik Pegangsaan yang saat itu tengah berpencar dengan tujuan masing-masing.Gank Pegangsaan yang didukung Debby Nasution,Keenan Nasution,Harry Sabar,Harry Minggoes,Eet Syahrani,Andy Ayunir,Molly Gagola,Sitoresmi dan banyak lagi ini berhasil melejitkan hits “Dirimu” karya Harry Minggoes yang dinyanyikan Keenan Nasution.

Memasuki era 90-an Keenan Nasution mulai menghilang dari industri musik pop.Meskipun ia tidak sama sekali meninggalkan musik.Keenan bahkan sempat membentuk Next Band,sebuah band panggung yang didukung Freddie Tamaela,Raidy Noor,Armand Maulana,Oding Nasution,Rani Trisuci Kamal hingga Andy Ayunir.
Bahkan sejak tahun 1997 Gipsy muncul lagi dengan formasi Keenan Nasution,Oding Nasution,Gauri Nasution,Onan Soesilo dan Tammy Daudsyah.Pemunculan Gipsy lebih banyak pada pola reuni baik di panggung pertunjukan maupun di TVRI. Tapi sesungguhnya reuni Gipsy yang paling mengharukan justeru terjadi pada Agustus 2006 ketika Chrisye yang duduk di kursi roda ikut manggung dengan menyanyikan sebuah lagu dari The Casual “Jasamine”.Sebelumnya,Guruh Gipsy bahkan tampil dalam acara malam dana untuk membantu Chrisye yang tengah mengidap kanker pada akhir tahun 2005.Di layar RCTI Guruh Gipsy dengan formasi Keenan Nasution,Guruh Soekarno Putera,Oding Nasution,Roni Harahap,Abadi Soesman dan Raidy Noor,adik ipar Chrisye yang menggantikan posisi Chrisye,tampil membawakan lagu “Indonesia Maharddhika” dan “Chopin Larung”.

Di tahun 2007,Keenan bertekad ingin kembali ke industri musik pop dengan merilis album “Apa Yang Telah Kau Buat” serta konser “Nuansa Bening” 5 Mei 2007 di Balai Kartini.Selain didukung sahabat lama seperti Addie MS,Harry Sabar,Fariz RM,Roni Harahap dan lainnya,Keenan pun didukung pemusik era sekarang seperti Ada Band,Marcel,Nugie dan Daryl Nasution yang merupakan putera kandung Keenan Nasution dan Ida Royani.Like father,like son !

(DENNY SAKRIE)Image

Keenan Nasution (rollingstone.co.id)

Di tahun 80-an,sejak Cockpit memproklamirkan diri sebagai impersonator Genesis,vokalisnya Frederick Tamaela a.k.a Freddie mau tidak mau dibaptis pula sebagai saudara kembar Phil Collins atau Peter Gabriel .Penyanyi  berdarah Maluku kelahiran Arnheim Belanda ini sesungguhnya bukanlah orang baru dalam dunia musik negeri ini.Di tahun 70-an,Freddie  yang dilahirkan tanggal 7 Desember  juga pernah menekuni dunia sepakbola ini telah tergabung dalam The ATS Group ,band asal Bogor.ATS adalah singkatan dari Lapangan Udara Atang Senjaya Bogor.Di band yang didukung Zulkarnain (gitar),Sugiman (bas).Saaf (drum) dan Gempul Bertajaya (saxophone,biola),Freddie tampil sebagai vokalis dan peniup harmonika.

Freddie juga pernah bergabung dalam band Jaguar sebagai vokalis juga.Saat itu Freddie wara wiri dari panggung pertunjukan hingga ke klab-klab malam menyanyikan lagu-lagu dalam berbagai genre.Timbre vokal Freddie termasuk lentur dan ekspresif.

Freddie pun sempat tergabung dalam kelompok Abadi Soesman Jazz Band yang dimotori gitaris/keyboardiss lintas genre Abadi Soesman sejak tahun 1979 dan sempat merekam album Jazz Masa Kini di tahun 1981 .Di album Jazz Masakini Freddie menyanyikan dua lagu diantaranya menyanyikan lagu The Rollies karya Oetje F Tekol “Hari Hari” yang dinyanyikan Gito Rollies pada tahun 1978.Pola jazz rock terasa pada penampilan Freddie Tamaela yang membawakan lagu “Hari Hari” . Beatnya pun diubah menjadi shuffle dengan susupan brass section yang saling menyilang pada permukaan lagu. Orientasi pada grup jazz rock Chicago maupun Blood Sweat & Tears terasa pada lagu yang arransemennya digurat Benny Likumahuwa. Pada lagu “Kelabu”, Freddie menyemburatkan aroma soul R&B. Terkadang Freddie mencoba meniru pola vokal Maurice White dari Earth Wind & Fire. Terasa soulful.

Di tahun 1980 Freddie bergabung dalam kelompok Batara Group yang didukung Oding Nasution (gitar),Debbie Nasution (keyboard),Yaya Moektio (drum) dan Harry Minggoes (bass).Pada tahun 1982,grup ini lalu berinkarnasi menjadi Cockpit.

Diluar Cockpit,Freddie masih memiliki dua band lain yaitu Next Band dan FOM.Munculnya band ini karena Freddie tak hanya ingin menjadi impersonator Phil Collins saja bersama Cockpit.Next Band didukung oleh Freddie Tamaela,Keenan Nasution,Oding Nasution,Raidy Noor,Andy Ayunir dan Rani Trisutji Kamal.FOM sendiri adalah singkatan dari Friends Of Mine yang antara lain didukung Dora Sahertian,Dolf Wemay,Inong juga Oding Nasution.Secara bercanda FOM kerap diartikan sebagai Freddie Orang Maluku.

Tahun 1983 Freddie Tamaela merilis album debut Ambon Jazz Rock Reggae (Gema Nada Pertiwi) .Setahun kemudian Freddie Tamaela merilis album Ratna Sari Dewi (RCA)  dengan dukungan musik Ian Antono (gitar,bass,music director),Sam (keyboards),Uce Haryono (drums) dan Roni Harahap (keyboards).Album ini menghasilkan hits “Haruskah Kuberlari” karya Tommy Wahyuddin S dan Marie Fiole.Di tahun 1985 Freddy merilis album “Tetangga” yang dirilis Billboard Indonesia dengan musik yang didukung seluruh personil Cockpit : Yaya Moektio (drums),Oding Nasution (gitar),Roni Harahap (keyboard) dan Raidy Noor (bass,gitar) serta pemusik tamu Gilang Ramadhan (drums).

Selain itu Freddie Tamaela juga ikut bernyanyi di album Suara Persaudaraan,Pakar Rock Indonesia dan Bintang Rock Indonesia.

Freddie Tamaela meninggal dunia pada tahun 1990 karena mengidap penyakit paru-paru basah.

Diskografi

1.Ambon Jazz Rock Reggae (Gema Nada Pertiwi 1983)

2.Ratna Sari Dewi (RCA 1984)

3.Tetangga (Billboard Indonesia 1985)

 

Denny Sakrie

Image

Freddie Tamaela (Foto Dewata – Press)

Ada yang membanding bandingkan mereka dengan The Jackson Five.Mereka adalah putera puteri pemusik said Kelana.Said Kelana menginginkan putera puterinya bermain musik dan tampil sebagai pemusik sejati.
Mereka awalnya hanya bertiga dengan nama Trio The Kids yang terdiri atas Idham Noorsaid (trumpet,fluegelhorn,bass,piano),Iromy (vokal,trumpet,gitar) dan Lydya Noorsaid (vokal,trumpet,saxophone).Lalu nama mereka berubah menjadi The Kid’s Brothers setelah masuknya 3 adik mereka yaitu Imaniar Noorsaid (vokal,saxophone),Isnan Noorsaid (drums) dan Iwang Noorsaid (keyboard).Karena beranjak dewasa namanya lalu berubah lagi menjadi The Big Kid’s Brothers.
Image

uce-f-tekol

Nama Lengkap            : Oetje F Tekol

Nama Populer              : Oetje

Tanggal Lahir               : 22 Maret 1955

 

Sosok Oetje F Tekol mulai dikenal luas saat bergabung dalam formasi band brass rock Bandung The Rollies pada tahun 1973 menggantikan posisi Deddy Stanzah,bassist sekaligus pendiri the Rollies.

Lelaki berdarah Belgia yang dilahirkan 22 Maret 1955 dengan nama Frank Tekol telah malang melintang di dunia musik di Bandung sejak awal 70an.Oetje saat itu bermain dalam berbagai band seperti Aneka Plaza Band hingga The Savoy ,homeband Savoy Homann Hotel Bandung.Menurut Oetje,bermain di klab atau di hotel menjadikan wawasan musiknya semakin lebar ,karena pada akhirnya Oetje bisa memainkan musik apa saja.Mulai dari pop,soul funk,jazz hingga rock sekalipun.

Direkrutnya Oetje ke dalam formasi The Rollies merupakan sebuah berkah karena Oetje sangat mengagumi musikalitas Deddy Stanzah.

Peran Oetje F Tekol dalam the Rollies cukup besar.Dia tak hanya memainkan bass tapi termasuk terampil dalam menulis lagu.Bahkan lagu-lagu karya Oetje banyak yang menjadi hits.Sebut saja lagu “Hari Hari”,”Kemarau”,”Dunia Dalam Berita” hingga “Astuti”. Bahkan lagu Kemarau yang ditulisnya pada tahun 1977 memperoleh penghargaan Anugerah Kalpataru oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Energi pada bulan Mei 1979.Penghargaan ini dinilai lantaran Oetje menuliskan pesan-pesan lingkungan hidup dalam lagu yang aslinya ditulis dalam irama country.