Nama Lengkap    : Fariz Rustam Munaf

Nama Pop            : Fariz RM

Lahir                    : Jakarta, 5 Januari 1958

Fariz Rustam Moenaf adalah pemusik serba bisa.Terampil bermain drum,keyboard,gitar,bass,menyanyi,menulis lagu,arranger.Semuanya komplit.

Fariz, yang akrab dipanggil Bule ini, dengan luwes berlenggang dari satu jenis musik ke jenis musik lainnya. Dia membawakan tema disko, jazz, rock, blues, hingga new age, tanpa sedikit pun terkesan “maksa”. Ini salah satu keunggulan putra bungsu pasangan Roestam Moenaf dan Anneke Moenaf itu yang rasanya jarang dimiliki pemusik negeri ini. “

 Pergaulan Fariz dengan lingkungan pemusik Pegangsaan seperti Nasution Bersaudara dan Chrisye mau tidak mau membuat wawasan musiknya semakin bertambah. Apalagi ketika duduk di bangku SMA III, Jakarta, Fariz bersama teman-temannya seperti Raidy Noor, Adjie Sutama, Addie M.S., dan Iman R.N. bernaung di bawah Vocal Group SMA III, yang sempat berprestasi di ajang Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors Rasisonia 1977. Tiga lagu karya anak SMA III, yaitu Angin, Akhir Sebuah Opera, dan Di Malam Sang Sukma Datang, berhasil masuk 10 besar lagu terbaik.

Tahun 1977 Fariz RM diajak Chrisye mendukung album Badai Pasti Berlalu sebagai drummer.Disini Fariz mulai berkenalan dengan Eros Djarot dan Yockie Surjoprajogo.

Dari rentang 1977 hingga sekarang, ada benang merah yang bisa ditarik dari perjalanan musikal Fariz: eksplorasi dan semangat berkolaborasi. Dua hal inilah yang memicu karya-karyanya bak puspa ragam. Ia termasuk “berani” melakukan hal-hal musikal yang sebelumnya tak pernah dijangkau orang. Bakat musiknya terligat sejak dini .Sejak usia delapan tahun telah belajar piano klasik pada Prof. Charlotte J.P., guru piano ibunya.

Di tahun 1978 Fariz RM diajak bergabung dalam Badai Band yang terdiri atas Chrisye (bass,vokal),Yockie Surjoprajogo (keyboards),Keenan Nasution (drums),Oding Nasution (gitar) dan Roni Harahap (piano).

Tahun 1979 saat Fariz kuliah di Jurusan Seni Rupa ITB Bandung, dia bergaul dengan komunitas Harry Roesli di Jalan WR Supratman 57 Bandung.Fariz sempat tergabung dengan kelompok vokal Kharisma yang diasuh Harry Roesli.Fariz sempat menjadi pemusik additional dalam grup rock Giant Step.Bersama gitaris Harry Soebardja,Fariz menggarap album solo Harie Dea,anggota kelompok vocal Balagadona Bandung.Bahkan Fariz ikut mendukung album solo Benny Soebardja.  

Sosoknya mulai dilirik orang ketika merilis album Sakura (Akurama, 1980), yang semuanya dilakukannya sendiri. Bayangkan, di album ini, dengan sistem rekam overdubbed, Fariz memainkan berbagai instrumen, seperti drum, kibor, gitar, bas, perkusi, sendirian. Bisa jadi Fariz terinsiprasi Stevie Wonder atau Mike Oldfield, pemusik yang bermain tunggal dalam sejumlah album rekamannya. Warna musiknya pun fresh dan groovy.

Di saat tren musik di negeri ini masih terbuai dalam balada yang mendayu-dayu, Fariz malah menawarkan konsep musik yang danceable ala Earth Wind & Fire dengan penonjolan pada aransemen brass section sebagai aksentuasi dan teknik bernyanyi falsetto. Setahun kemudian, Fariz R.M. membentuk grup Transs, yang personelnya antara lain Erwin Gutawa, pemusik yang sekarang banyak dikaitkan dengan aransemen berbau orkestral. Dengan Transs, Fariz menawarkan konsep musik fusion, yang akhirnya membuat sejumlah grup musik terinspirasi untuk menggarap musik fusion, yang memadukan jazz dan rock. Transs adalah grup yang maunya beridealisme tinggi. Ini terlihat dari kalimat yang tertera pada sampul album Transs, Hotel San Vicente (1981): “pembaharuan musik Indonesia dalam warna, personalitas, dan gaya”. Boleh jadi kalimat itu berkonotasi gagah-gagahan belaka. Namun patut diakui, sejak pemunculan Transs, mulailah muncul grup-grup fusion seperti Krakatau, Karimata, Emerald, dan lain-lain.

Tak cukup setahun, Fariz telah siap dengan formasi Symphony, grup yang banyak memainkan warna new wave dengan mengandalkan tekstur bunyi synthesis seperti yang dimainkan The Police atau Duran-Duran. Di tahun 1983, Fariz menggandeng Iwan Madjid dan Darwin B. Rachman dalam Wow. Kali ini mereka memainkan musik rock progresif, yang mengacu ke grup musik rock progresif legendaris Yess dan Emerson Lake and Palmer.

Fariz lalu berbaur dengan pemusik jazz, antara lain berguru dengan almarhum Jack Lesmana. Bersama Candra Darusman, Fariz ikut mendukung kelompok jazz Lima Sekawan, yang kerap tampil di TVRI pada acara Nada & Improvisasi yang digagas Jack. Bahkan Fariz sempat membentuk grup GIF (Gilang Ramadhan, Indra Lesmana, Fariz R.M.) di pertengahan tahun 1980-an. Trio ini sempat tampil dalam album solo Indra Lesmana, Tragedi (1985). Ia juga membuat album pop jazz untuk penyanyi jazz Jacky, Gairah Baru (1980), dengan menggaet pemain drum jazz Karim Suweilleh. Dalam catatan, Fariz telah menghasilkan lebih dari 15 album solo serta sekitar 90 lebih album dalam bentuk grup ataupun kolaborasi serta genre musik yang berbeda. Dia juga ikut menggarap musik sejumlah album penyanyi solo, dari Emilia Contessa, Achmad Albar, Andi Meriem Mattalata, Nourma Yunita, Delly Rollies, Jimmy Manoppo, Gito Rollies, dan sederet panjang lainnya. Fariz pun tercatat paling banyak melakukan duet dengan penyanyi wanita seperti Iis Sugianto, Anita Carolina Mohede, Neno Warisman, Marissa Haque, Nourma Yunita, Renny Jayoesman, Yanti Noor, Titi D.J., Malyda, termasuk Janet Arnaiz, penyanyi dari negeri tetangga Filipina.

Denny SakrieImage

Advertisements