Guruh Gipsy

Guruh Gipsy

Sepulang dari lawatan musik di  New York Amerika Serikat,Keenan Nasution dan Gauri Nasution mulai banyak berhubungan dengan Guruh Soekarno Putera.

Gauri Nasution  dan Guruh Soekarno Putera sebetulnya merupakan dua sahabat lama.Mereka berdua merupakan  teman sekelas saat sama sama bersekolah di Yayasan Perguruan Cikini.

”Guruh memang memiliki visi berkesenian yang tinggi.Dia menguasai tari,musik dan juga teater barangkali” puji Gauri Nasution.Mereka,Guruh,Gauri dan Keenan Nasution  ternyata tengah kasak kusuk melakukan  rencana proyek musik eksperimen.

Guruh yang baru saja tiba dari Belanda gelisah ingin menampilkan sebuah proyek musik yang  menampilkan musik tradisional Indonesia yang bersanding dengan musik Barat.

“Saya memang terobsesi ingin melakukan semacam percampuran budaya ini.Saya pernah mendengar Debussy memasukkan gamelan atau pun orang Kanada Collin Mc Phee yang juga bereksperimen dengan gamelan” tutur  Guruh Soekarno Putera.

Terkadang kita memang seolah terlambat berkreasi dibanding  pemusik Barat.Collin McPhee di tahun 1937 telah menghasilkan karya “Tabuh-tabuhan” yang menggabungkan perangai musik tradisional Bali dengan musik Klasik Barat.

Guruh sendiri selama 2 tahun sempat belajar arkeologi pada Universiteit Van Amsterdaam Belanda. Tapi entah kenapa justeru semangatnya berkesenian semakin membuncah dan kian menggelegak.Bahkan dipicu pula dengan semangat nasionalisme yang tinggi.Di mata Guruh,mungkin dia hanya melihat warna merah dan putih.Dwiwarna inilah yang menyelubungi jiwa seninya.

Di Belanda,Guruh SoekarnoPutera pernah bersua dengan Pandji,Direktur Konservatorium Bali yang kebetulan tengah menimba ilmu pula.Atas gagasan Pandji,Guruh pun menampilkan kemampuannya menabuh gamelan dan menari.Selanjutnya kelangsungan komunitas penabuh gamelan Bali yang dibentuk Pandji diserahkan pada Guruh Soekarno Putera.

Guruh memang telah terbiasa dengan kebudayaan Bali.Ketika masih bersekolah di Perguruan Cikini,Guruh pun telah mempelajari kesenian Bali secaratekun dan seksama pada I  Made Gerindem di Ubud Bali.

Bagi Gauri Nasution  dan Keenan Nasution seni musik Bali bukanlah sesuatu  yang asing lagi.

Pada tahun 1966-1968 bersama Sabda Nada mereka sudah terbiasa bereksperimen menggabungkan musik Barat dengan gamelan Bali yang di arahkan oleh I Wayan Suparta.

Hal serupa pun mereka lakukan ketika Gipsy tampil di Restauran Ramayana New York   pada tahun 1973.

Lalu di tahun 1974 setelah mundur dari formasi God Bless,Keenan Nasution (drums,vokal) mengajak Oding Nasution (gitar),Debby Nasution (bass),Abadi Soesman (synthesizers) dan Roni Harahap (piano,keyboards) untuk membentuk kembali formasi Gipsy yang sudah tidak aktif manggung dengan bereksperimen memadukan musik rock dan gamelan Bali yang dimainkan oleh kelompok yang dipimpin  Syaukat Suryasubrata.

“Saya masih ingat saat itu kita bereksperimen membawakan “Topograpic Oceans” nya kelompok Yes tapi pada beberapa segmen justeru dimainkan dengan membaurkan musik gamelan Bali” cerita Abadi Soesman.

Pertemuan antara Keenan Nasution dan Guruh Soekarno Putera akhirnya membuahkan kesepakatan untuk membuat sebuah eksperimen musik Bali Rock.Keenan dan Guruh pun akhirnya memulai proyek ini dengan menghubungi Pontjo Sutowo sebagai penyandang dana.Pontjo bersedia membantu proyek ini.”Untuk musik saya memang selalu bersedia membantu,meskipun proyek musik idealis semacam ini membutuhkan biaya banyak dan siap merugi” ungkap Pontjo Sutowo.

Memasuki bulan Juli 1975 rekaman yang kemudian diberi nama Guruh Gipsy mulai dilakukan di Laboratorium Pengembangan dan Penelitian Audio Visual Tri Angkasa,sebuah studio rekaman dengan fasilitas kanal 16 track pertama di Indonesia yang berada di kawasan Kebayoran Baru Jakarta Selatan.

Penggarapan album ini cukup panjang dan berakhir pada November 1976. Menurut Guruh penggarapan album ini sesungguhnya hanya menggunakan jadwal studio sebanyak 52 hari. Ada pun kurun waktu sekitar 16 bulan itu termasuk dihabiskan untuk mengumpulkan biaya dari para donatur (selain dari Pontjo),latihan dan menulis materi lagu hingga menunggu jadwal studio kosong ketika Tri Angkasa digunakan oleh pihak lain .

Proyek ini betul-betul menguras energi dan stamina.Gipsy yang terdiri dari Keenan,Roni,Abadi,Chrisye dan Oding tidak tampil sendirian.Sederet pemusik lainnya mendukung performa mereka di bilik rekam.Ada Trisutji Kamal,pianis yang juga ikut membuat arransemen.Kelompok Saraswati Bali yang dipimpin I Gusti Kompyang Raka,juga paduan suara Rugun Hutauruk dan Bornok Hutauruk serta sederet chamber music yang terdiri atas Fauzan,Suryati Supilin,Seno pada biola.Sudarmadi pada cello,Amir Katamsi pada kontra bas,Suparlan pada flute serta Yudianto pada oboe dan clarinet.

Rekaman Guruh Gipsy fase pertama berlangsung dari Juli 1975 hingga Februari 1976 dan berhasil menyelesaikan sebanyak 4 komposisi yaitu Geger Gelgel,Barong Gundah,Chopin Larung  dan sebuah komposisi yang belum diberi judul tapi kemudian tidak jadi dimasukkan dalam album.

Lalu rekaman Guruh Gipsy fase 2 berlangsung  dari Mei hingga Juni 1976 yang menghasilkan 3 lagu masing masing Djanger 1897 Saka,Indonesia Maharddhika dan Smaradhana.Pada fase ini ada 3 komposisi yang direkam lagi dan disempurnakan yaitu Barong Gundah,Chopin Larung dan Geger Gelgel.

Menurut peñata rekamannya Alex Kumara dalam proses perekaman “Indonesia Maharddhika” dan “Geger Gelgel” termasuk sulit penggarapannya secara teknis,karena begitu banyak bunyi-bunyian yang harus direkam  serta jumlah pemainnya yang mencapai 25 orang hingga studio berukuran 50 meter persegi terasa begitu sesak dan pengap.

Namun,kendala ini tak membuat satu pendukung pun yang menyerah.Mereka bagaikan pejuang yang tengah berjuang di medan laga.

Penempatan microphone pun harus tepat di tengah sesaknya studio Tri Angkasa.

Lagu “Indonesia Maharddhika”misalnya membutuhkan proses dubbing berupa pengisian suara gitar elektrik ,keyboard,piano elektrik dan synthesizers sebanyak 200 kali.Sesuatu yang pasti tak akan ditemui pada proses perekaman di zaman sekarang yang telah didukung teknologi mutakhir.

“Beruntunglah pemusik sekarang yang tertolong oleh kemudahan teknologi.Dulu saat harus mengadopsi banyak bunyi-bunyian keyboard dalam berbagai layer harus melakukan overdub ratusan kali”jelas Abadi Soesman.

Keenan Nasution dan Chrisye menjadi vokalis utama dalam Guruh Gipsy.Keenan membawakan Indonesia Maharddhika dan Geger Gelgel.Chrisye menyanyikan Chopin Larung dan Smaradhana.Sementara pada lagu “Djanger1897 Saka dinyanyikan secara bergantian oleh Keenan dan Chrisye.

Album Guruh Gipsy ini  lalu dilepas ke masyarakat dan dijual seharga Rp 1.750 yang disertai semacam scrap book yang  dimaksudkan untuk bertutur perihal ikhwal asal-usul lagu dan proses kreatif yang menyertai penggarapan Guruh Gipsy.

Sampul album Guruh Gipsy berlatar warna coklat tua dengan tagline : kesepakatan dalam kepekatan.Maksudnya album ini merupakan sebuah karya yang dihasilkan dari sebuah kesepakatan di dalam masa yang penuh kepekatan.Lirik lagu seperti “Geger Gelgel sebetulnya adalah bentuk keprihatinan Guruh sebagai penafsir lirik terhadap keadaan negeri tercinta ini.Simaklah liriknya ini :

Dulu di Gelgel pernah geger namun tak segeger hatiku Hasrat hati ingin membeber segala peri-laku palsu

Degup jantung irama Batel bagai derap pasukan Gelgel Menentang penjajah angkara penindas hak dasar manusia

Wahai kawan nyalangkan matamu Simaklah dalam babad moyangmu

Di Gelgel pernah geger semangat suci luber Kepasuan tersebar Orang batil tercecer-cecer Geger Gelgel – Gelgel geger, di Gelgel geger

Hatta nasib rakyat jelata yang bukan ahli berbicara

 

Tapi hatinya bersuara menuntut hak alam merdeka

Kaum sudra dipermainkan oleh muliawan gadungan Hati tercekam suasana ngeri waswas meraja-lela

Wahai kawan jangan engkau lengah Ketidakadilan harus musnah

Singkirkan cadar ragu singsingkan fajar baru Mari kita bersatu du dalam setiap nafasmu Menyingkap dan menelanjangi adegan palsu

membahas sangkakala menyibak mega raya Menyongsong bahagia moga sirna duka derita janji Sang Hyang Maheswara niscaya ‘kan nyata

Demikian juga lagu “Chopin Larung” dan “Djanger 1897 Saka” yang menyitir tentang kontaminasi budaya yang terjadi di kantung kantung budaya Indonesia seperti di Bali.Simaklah lirik “Djanger 1897 Saka” dibawah ini :

Dulu memahat buat menghias pura (-puri) dulu menari dengan sepenuh hati Sekarang memahat untuk pelancong mancanegari Sekarang menari turut cita turis luar negeri

Tari Legong jaman masyhurnya di Saba (-Kedaton) dipersingkat demi selera penonton Wingit barong dan tari keris sering sekedar tontonan turis kekhusukan upacara melins sering terganggu jepret lampu blitz.

Onde-onde dari Cisalak, berkonde Jawa rambut disasak Ondenya masakan Semarang, konde sasakan mode sekarang

Art shop megah berleret memagar sawah ( Cak he he ) Cottage mewah berjajar dipantai indah Karya – cipta nan elok – indah ditantang alam modernisasi Permai alam mulai punah karena gersang rasa mandiri

Boleh saja bersikap selalu ramah (-tamah) bukanlah berarti bangsa kita murah Kalau kawan tak hati-hati bisa  punah budaya asli Kalau punah budaya asli harga diri tak ada lagi (harga diri tak ada lagi maka tak dapat berbangga hati)

 

 

Selain itu ,pada sampul Guruh Gipsy tertera kaligrafi Dasabayu, yang terdiri atas 10 aksara Bali dengan arti tertentu yaitu  I-A (kejadian, keadaan), A-Ka-Sa (kesendirian,, kekosongan), Ma-Ra (baru), La-Wa (kebenaran), dan Ya-Ung (sejati).Menurut Guruh Soekarno Putera,himpunan kesepuluh aksara itu pada zaman dahulun kala di Bali memberikan semacam  mukjizat bagi yang mempercayainya. Secara keseluruhan aksara-aksara itu bermakna bahwa dengan keadaan yang kosong barulah akan timbul kebenaran yang sejati.

Menariknya lagi,Guruh yang terpengaruh Ronggowarsito mengabadikan nama-nama personil Guruh Gipsy dalam barisan lirik lagu “Indonesia Maharddhika” :

Om awignam mastu

DING Aryan ring sasi karo

ROhini kanta padem

NIshite redite pratama

KIlat sapte tusteng padem

NANte wira megawi plambang

Aku dengar deru jiwa

BA dai badai mahaghora

DI Nusantara Raya

Cerah gilang gemilang

Harapan masa dating

Rukun dama imulia

Indonesia tercinta

Selamatsejahtera

GUnung langit samudera

RUH semestamemuja

Rukun damai mulia

Indonesia tercinta

Menjelang akhir tahun 1976  album Guruh Gipsy dirilis ke pasaran.Tapi tak semua orang mengenal dan menyimak karya kolosal ini.Namun siapa sangka,3 dasawarsa berselang ,album Guruh Gipsymenjadi album yang paling dicari-cari orang,Bukan hanya di Indonesia,melainkan juga di berbagai belahan dunia termasuk Amerika,Inggeris hingga Jepang..Bahkan beberapa radio di Kanada,Swiss dan Belanda memutar Guruh Gipsysekaligus mengulasnya dalam apresiasi musik yang mendalam.Pada akhirnya Guruh Gipsy menjadi salah satu milestone perjalanan musik Indonesia.Tak berlebihan jika album ini diibaratkan album “Sgt Pepper’s Lonely Heart’s Club Band” nya The Beatles.Sebuah album yang membuat revolusi dalam musik pop.

Advertisements