Semasa hidupnya, pemusik  Adjie Bandy lekat dengan atmosfer musik  idealis. Adjie Bandy yang dilahirkan di Blitar, 10 Januari 1947, menguasai dengan baik berbagai instrumen musik mulai dari gitar, keyboard, hingga biola. Musik klasik adalah dasar musik yang digelutinya.

Pada 1960, saat Adjie baru ber usia 13 tahun,  telah tampil memukau dengan gesekan biolanya di Yogyakarta. Disinilah Adjie menimba ilmu musik klasik di Akademi Musik Yogya yang diselesaikannya pada 1969. Kemudian Adjie  merantau ke Jakarta untuk meniti karier musik. Bergabunglah Adjie dengan Orkes Simphony Jakarta yang dipimpin Adidharma selama 2 tahun.Naluri kreativitasnya yang bergejolak membuat Adjie memilih bergabung dengan sebuah grup pop, C’Blues,yang merilis dua album di perusahaan Remaco. Adjie sempat menulis beberapa lagu, di antaranya yang melejit sebagai hits adalah “Ikhlas” yang juga dinyanyikannya sendiri.

Karena gagasan musiknya kurang tertampung di tubuh C’Blues, Adjie mundur dan menjejakkan kaki di grup Cockpit.yang antara lain didukung Emmand Saleh, Najib Osman, Paultje Endoh, dan Eddy. Cockpit sempat dikontrak di sebuah klab di Singapura.

Periode 1973-1974, Adjie Bandy diajak bergabung dengan grup Gipsy . Saat itu Gipsy yang didukung Keenan Nasution (drum), Gaury Nasution (gitar), Chrisye (bass), Rully Djohan (piano), dan Lulu Soemaryo (saksofon, flute), tengah bersiap-siap untuk bertolak ke New York, Amerika Serikat  tawaran dari pejabat Pertamina, Ibnu Soetowo, untuk mengisi hiburan musik di Restoran Ramayana.

Pada 1976, Adjie Bandy  membentuk band baru bernama Contrapunk

Adjie Bandy nyaris menulis semua lagu untuk debut album Contrapunk, antara lain “Puteri Mohon Diri” dan “Irama Waktu” yang memiliki pengaruh kuat musik klasik. Bahkan dalam “Puteri Mohon Diri”, yang menjadi juara kedua dalam “Festival Lagu Pop Indonesia 1976”, menawarkan sesuatu yang unik: Menyusupkan atmosfer karawitan Sunda. Sayangnya, Contrapunk –dengan Adjie yang lebih banyak berkonestrasi sebagai pencipta lagu– hanya merilis satu album..

Di tahun 1976, lagu ciptaannya, “Puteri Mohon Diri”, berhasil meraih juara  kedua “Festival Lagu Pop Indonesia 1976”. Setahun berselang Adjie kembali memasukkan karyanya bertajuk “Damai Tapi Gersang”  pada Festival Lagu Pop Indonesia 1977.  yang kemudian terpilih untuk  berlaga di Nippon Budokan Hall, Tokyo, pada 11-13 November 1977. Lagu yang bercerita mengenai makna kehidupan ini berhasil menyabet Outstanding Song Award.,sebuah penghargaan atas karya lagu.

Memasuki dasawarsa 80-an, secara perlahan nama Adjie Bandy seolah kian menyurut. Hampir tak terdengar sama sekali. Memasuki era 90-an sosok Adjie Bandy tiba-tiba menggaung lagi, tapi dalam suasana yang sarat keprihatinan. Adjie yang telah bercerai dengan istrinya, terbaring lemah di sebuah rumah yang sangat sederhana. Pemandangan yang terlihat tak ubahnya seperti larik lagunya yang ia cipta di masa mudanya itu: Damai tapi gersang.

Pada 27 Januari 1992, pukul 07.00 WIB, , Adjie Bandy mengembuskan napasnya yang terakhir. Ia meninggal di Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta, dalam usia 46 tahun.Image

Advertisements