Archives for the month of: December, 2012
Ada yang membanding bandingkan mereka dengan The Jackson Five.Mereka adalah putera puteri pemusik said Kelana.Said Kelana menginginkan putera puterinya bermain musik dan tampil sebagai pemusik sejati.
Mereka awalnya hanya bertiga dengan nama Trio The Kids yang terdiri atas Idham Noorsaid (trumpet,fluegelhorn,bass,piano),Iromy (vokal,trumpet,gitar) dan Lydya Noorsaid (vokal,trumpet,saxophone).Lalu nama mereka berubah menjadi The Kid’s Brothers setelah masuknya 3 adik mereka yaitu Imaniar Noorsaid (vokal,saxophone),Isnan Noorsaid (drums) dan Iwang Noorsaid (keyboard).Karena beranjak dewasa namanya lalu berubah lagi menjadi The Big Kid’s Brothers.
Image
Advertisements

uce-f-tekol

Nama Lengkap            : Oetje F Tekol

Nama Populer              : Oetje

Tanggal Lahir               : 22 Maret 1955

 

Sosok Oetje F Tekol mulai dikenal luas saat bergabung dalam formasi band brass rock Bandung The Rollies pada tahun 1973 menggantikan posisi Deddy Stanzah,bassist sekaligus pendiri the Rollies.

Lelaki berdarah Belgia yang dilahirkan 22 Maret 1955 dengan nama Frank Tekol telah malang melintang di dunia musik di Bandung sejak awal 70an.Oetje saat itu bermain dalam berbagai band seperti Aneka Plaza Band hingga The Savoy ,homeband Savoy Homann Hotel Bandung.Menurut Oetje,bermain di klab atau di hotel menjadikan wawasan musiknya semakin lebar ,karena pada akhirnya Oetje bisa memainkan musik apa saja.Mulai dari pop,soul funk,jazz hingga rock sekalipun.

Direkrutnya Oetje ke dalam formasi The Rollies merupakan sebuah berkah karena Oetje sangat mengagumi musikalitas Deddy Stanzah.

Peran Oetje F Tekol dalam the Rollies cukup besar.Dia tak hanya memainkan bass tapi termasuk terampil dalam menulis lagu.Bahkan lagu-lagu karya Oetje banyak yang menjadi hits.Sebut saja lagu “Hari Hari”,”Kemarau”,”Dunia Dalam Berita” hingga “Astuti”. Bahkan lagu Kemarau yang ditulisnya pada tahun 1977 memperoleh penghargaan Anugerah Kalpataru oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Energi pada bulan Mei 1979.Penghargaan ini dinilai lantaran Oetje menuliskan pesan-pesan lingkungan hidup dalam lagu yang aslinya ditulis dalam irama country.

Nama Lengkap                        : Robert Willem  Tutupoly

Nama Populer                         : Bob Tutupoly

Tempat Tanggal Lahir          :  Surabaya 13 November 1939

Karir musik Bob Tutupoly  yang lahir 13 November  1939 terbentang panjang ,dengan menyentuh  berbagai genre musik,mulai dari pop hingga jazz sekalipun. ”Tahun 1957 saya diminta mengisi acara Jazz di RRI Surabaya bersama Quartet Modern Jazz yang dipimpin Didi Pattirane.Saat itu kita mulai menyanyi dengan gaya The Hi-Lo’s hingga Four Freshmen” kisah Bob.Selain itu bersama Didi Pattirane juga,serta Loddy Item,ayahnya Jopie Item,Max Lee,kami tergabung dalam Band Bhineka Ria Surabaya.Band ini lalu ikut dalam event Festival band se Indonesia yang digelar di Gedung Ikada Jakarta tahun 1959.”

Di tahun 1959 pula Bob merekam lagu lagu Maluku seperti “Sarinande”,”Mande Mande” di perusahaan Lokananta Solo dengan iringan Didy Pattirane . Setahun kemudian Bob merampungkan rekaman di Irama milik Soejoso Karsono (alm) menyanyikan lagu-lagu : Kopral Jono hingga Oto Bemo.Lalu Bob pindah kuliah di Bandung.

”Disini saya bergabung dengan band Crescendo menghibur publik di Bumi Sangkuriang” ingat Bob Tutupoly.Di tahun 1963 Bob bergabung sebagai penyanyi dalam kelompok The Jazz Riders yang didukung almarhum Didi Tjia serta Bill Saragih.Grup elit jazz ini bermain di Hotel Indonesia Jakarta.Di tahun 1968,Bob merekam suaranya di Remaco bersama iringan Pantja Nada-nya Enteng Tanamal. Di tahun 1969 Bob merantau ke negeri Paman Sam atas dukungan kelompok instrumental The Ventures,yang saat itu baru saja menyelesaikan konser di Jakarta.”Bob Bogle dari The Ventures yang tertarik mengajak saya untuk merekam album di AS ” ujar Bob Tutupoly.

Antara tahun 1969-1971 Bob kerap melakukan pertunjukan di klab malam yang ada di LosAngeles bersama band The Midnighters.”Di tempat saya main,saat itu juga Al Jarreau sering tampil.Dia nyanyi sambil main gitar dan ditemani sebuah beatbox.Unik sih” kata Bob Tutupoly.Saat itu pula Bob Tutupoly mendapat peluang rekaman di Reprise yang dimiliki Frank Sinatra.Bob dipersiapkan membuat single yang berisikan dua lagu :”I’ve Been Loving You Too Long” nya OtisRedding dan “Bye Bye Birmingham”.Namun rekaman itu urung dirilis.Di tahun 1972,Bob mendapat tawaran dari Ibnu Sutowo untuk bekerja di Ramayana Restaurant,yang dikelola Pertamina.Di situ Bob bertugas sebagai Public Realtion,manajer serta penghibur Tahun 1976,Bob balik ke Indonesia untuk menikah.Kepulangannnya ditandai dengan kembalinya Bob ke Remaco.Diluar dugaan lagu “Widuri” karya Adriadie berhasil melambungkan namanya ke permukaan.

TeleramaDenny Sakrie

Dilahirkan 1 Oktober 1917 di kota Surakarta dengan nama lengkap Gesang Martohartono, seorang pencipta lagu dan juga penyanyi.Nama Gesang selalu terkait dengan musik keroncong.

Lagu  Bengawan Solo yang mengangkat namanya ini ditulis  pada tahun 1940, saat berusia 23 tahun. dan Gesang tengah  duduk di tepi Bengawan Solo.Gesang u kagum dengan aliran sungai itu hingga akhirnya mendapat ilham dan menuangkannya menjadi sebuah komposisi lagu. Konon masa  perampungan  lagu ini menghabiskan  waktu sampai  6 bulan.

Lagu Bengawan Solo juga memiliki popularitas tersendiri di luar negeri, terutama di Jepang . Bengawan Solo sempat digunakan dalam salah satu film layar lebar Jepang yang disutradarai oleh Akira Kurosawa.

Gesang pada awalnya bukanlah seorang pencipta lagu. Dulu, ia hanya seorang penyanyi lagu-lagu keroncong untuk acara dan pesta kecil-kecilan saja di kota Solo. Ia juga pernah menciptakan beberapa lagu, seperti; Keroncong Roda Dunia, Keroncong si Piatu, dan Sapu Tangan, pada masa perang dunia II. Sayangnya, ketiga lagu ini kurang mendapat sambutan dari masyarakat.

Sebagai  penghargaan terhadap jasa-jasanya pada  perkembangan musik keroncong,di  tahun 1983 para penggemar Gesang dari Jepang  membangun Taman Gesang di dekat Bengawan Solo. Pengelolaan dan perawatan Ttaman ini dibiayai oleh Dana Gesang, sebuah lembaga yang didirikan untuk Gesang di Jepang.

Gesang menghembuskan nafas terakhir pada tanggal 20 Mei 2010Image

Gesang (Dokumentasi Gesang)

Pance Pondaag

Pance Pondaag

Lagu melankolis dengan tempo 3/4 ini judulnya “Mutiaraku” hampir tiap hari muncul di acara TVRI “Mana Suka Siaran Niaga” di tahun 1977 .Suara penyanyinya agak aneh.hampir tanpa bas samasekali.Melengking dan cenderung mirip ambitus suara wanita.Tubuhnya gemuk dengan pipi yang tembem serta rambut yang gondrong tanggung.
Terus terang saya tidak suka mendengar lagunya.Apalagi suaranya yang melengking tinggi itu.Tapi entah kenapa saya jadi bisa hafl lagu itu.Mungkin karena lagu ini menjadi semacam heavy rotation oleh TVRI.Saat itu Yukawi,label milik Dharmwan yang berada di Bogor bersaing ketat denga Remaco milik Eugene Timothy yang saat itu tengah terjebak mendagangkan kaset 1000 Tiga nan fenomenal itu.

Lelaki Manado ini bernama lengkap Frans Pondaag dan kerap dipanggil Pance.Lahir 18 Februari 1951 di Makassar.Dia mulai meniti karir musik di Ujung Pandang.Bahkan kemudian Pance pun menemukan jodoh seorang gadis Ujung Pandang.
Penampilan perdananya melalui album yang dirilis Yukawi itu ternyata meledak.Disaat yang bersamaan,dengan perangai musik yang berbeda muncul ke permukaan nama Chrisye yang baru saja ngetop lewat “Lilin Lilin Kecil” dan album “Badai Pasti Berlalu”.
Gebrakan Pance ternyata hanya pada album debut dengan lagu andalan yang ditulisnya sendiri “Mutiaraku”.Nama Pance pun tak terangkat tinggi tinggi.Kata orang mediocre lah.
Setelah itu nama Pance yang kini ditulis lengkap Pance Pondaag mulai berkibar justeru sebagai seorang hitmaker yang seolah membayangi Rinto Harahap yang telah menjadi raja musik pop lewat label Lolipop Record.
Pance pun membayani Rinto lewat sederet hits yang dinyanyikan sederet penyanyi wanita cantik yang bernaung dibawah label JK Record milik Judhi Kristanto.
Pance saat itu tak ubahnya Raja Midas mitologi Yunani.Setiap yang disentuhnya berubah menjadi emas.Lagu lagu Pance mulai berkibar dikerongkongan Dian Piesesha,Meriem Bellina,Chintami Atmanegara dan banyak lagi.Susah untuk ngingetnya.Yang saya ingat lagu “Tak Ingin Sendiri” merupakan hits terbesar Pance yang dinyanyikan Dian Piesesha.Kabarnya album yang dirilis JK Record itu berhasil tembus pada penjualan diatas 1 juta keping .Luar biasa.
Singgasana Rinto pun mulai terbagi ke Pance dan juga seoarng follower Rinto bernama Obbie Messakh.Baik Pance maupuh Obbie banyak memberi lagu-lagunya ke label JK Records.
Di era paruh 80-an itu,setidaknya triumvirat penguasa industri musik pop “cengeng” dipegang oleh Rinto,Obbie dan Pance.
Pance pun kian giat menghasilkan hits.Apalagi setelah Pance membagun studio mewah miliknya yang diberinama Ramsa.
Tapi sayang ending perjalanan seniman hiburan negeri ini selalu berakhir dengan nestapa.Kegemilangan yang berhasil diraih seolah cepat sirna dengan sekejap saja.
Dalam kerentaannya Pance bahkan mengalami 9 kali stroke.Ah sebuah antiklimaks yang kerap terapmapang dimuka kita dari dunia hiburan yang penuh silau kegemilangan.
Dan pada tanggal 3 Juni 2010  Pance pun berpulang.Pance adalah ,seniman musik yang telah banyak memberikan inspirasi bagi jutaan orang yang nelangsa menghadapi cobaan hidup,dikhianati pasangan,sosok yang dilanda kerinduan karena kekasih terpisah jarak lewat tema tema lagunya yang oleh sebagian orang “pintar” dipojokkan sebagai karya cengeng atau menye menye kata anak jaman sekarang.

Guruh Gipsy

Guruh Gipsy

Sepulang dari lawatan musik di  New York Amerika Serikat,Keenan Nasution dan Gauri Nasution mulai banyak berhubungan dengan Guruh Soekarno Putera.

Gauri Nasution  dan Guruh Soekarno Putera sebetulnya merupakan dua sahabat lama.Mereka berdua merupakan  teman sekelas saat sama sama bersekolah di Yayasan Perguruan Cikini.

”Guruh memang memiliki visi berkesenian yang tinggi.Dia menguasai tari,musik dan juga teater barangkali” puji Gauri Nasution.Mereka,Guruh,Gauri dan Keenan Nasution  ternyata tengah kasak kusuk melakukan  rencana proyek musik eksperimen.

Guruh yang baru saja tiba dari Belanda gelisah ingin menampilkan sebuah proyek musik yang  menampilkan musik tradisional Indonesia yang bersanding dengan musik Barat.

“Saya memang terobsesi ingin melakukan semacam percampuran budaya ini.Saya pernah mendengar Debussy memasukkan gamelan atau pun orang Kanada Collin Mc Phee yang juga bereksperimen dengan gamelan” tutur  Guruh Soekarno Putera.

Terkadang kita memang seolah terlambat berkreasi dibanding  pemusik Barat.Collin McPhee di tahun 1937 telah menghasilkan karya “Tabuh-tabuhan” yang menggabungkan perangai musik tradisional Bali dengan musik Klasik Barat.

Guruh sendiri selama 2 tahun sempat belajar arkeologi pada Universiteit Van Amsterdaam Belanda. Tapi entah kenapa justeru semangatnya berkesenian semakin membuncah dan kian menggelegak.Bahkan dipicu pula dengan semangat nasionalisme yang tinggi.Di mata Guruh,mungkin dia hanya melihat warna merah dan putih.Dwiwarna inilah yang menyelubungi jiwa seninya.

Di Belanda,Guruh SoekarnoPutera pernah bersua dengan Pandji,Direktur Konservatorium Bali yang kebetulan tengah menimba ilmu pula.Atas gagasan Pandji,Guruh pun menampilkan kemampuannya menabuh gamelan dan menari.Selanjutnya kelangsungan komunitas penabuh gamelan Bali yang dibentuk Pandji diserahkan pada Guruh Soekarno Putera.

Guruh memang telah terbiasa dengan kebudayaan Bali.Ketika masih bersekolah di Perguruan Cikini,Guruh pun telah mempelajari kesenian Bali secaratekun dan seksama pada I  Made Gerindem di Ubud Bali.

Bagi Gauri Nasution  dan Keenan Nasution seni musik Bali bukanlah sesuatu  yang asing lagi.

Pada tahun 1966-1968 bersama Sabda Nada mereka sudah terbiasa bereksperimen menggabungkan musik Barat dengan gamelan Bali yang di arahkan oleh I Wayan Suparta.

Hal serupa pun mereka lakukan ketika Gipsy tampil di Restauran Ramayana New York   pada tahun 1973.

Lalu di tahun 1974 setelah mundur dari formasi God Bless,Keenan Nasution (drums,vokal) mengajak Oding Nasution (gitar),Debby Nasution (bass),Abadi Soesman (synthesizers) dan Roni Harahap (piano,keyboards) untuk membentuk kembali formasi Gipsy yang sudah tidak aktif manggung dengan bereksperimen memadukan musik rock dan gamelan Bali yang dimainkan oleh kelompok yang dipimpin  Syaukat Suryasubrata.

“Saya masih ingat saat itu kita bereksperimen membawakan “Topograpic Oceans” nya kelompok Yes tapi pada beberapa segmen justeru dimainkan dengan membaurkan musik gamelan Bali” cerita Abadi Soesman.

Pertemuan antara Keenan Nasution dan Guruh Soekarno Putera akhirnya membuahkan kesepakatan untuk membuat sebuah eksperimen musik Bali Rock.Keenan dan Guruh pun akhirnya memulai proyek ini dengan menghubungi Pontjo Sutowo sebagai penyandang dana.Pontjo bersedia membantu proyek ini.”Untuk musik saya memang selalu bersedia membantu,meskipun proyek musik idealis semacam ini membutuhkan biaya banyak dan siap merugi” ungkap Pontjo Sutowo.

Memasuki bulan Juli 1975 rekaman yang kemudian diberi nama Guruh Gipsy mulai dilakukan di Laboratorium Pengembangan dan Penelitian Audio Visual Tri Angkasa,sebuah studio rekaman dengan fasilitas kanal 16 track pertama di Indonesia yang berada di kawasan Kebayoran Baru Jakarta Selatan.

Penggarapan album ini cukup panjang dan berakhir pada November 1976. Menurut Guruh penggarapan album ini sesungguhnya hanya menggunakan jadwal studio sebanyak 52 hari. Ada pun kurun waktu sekitar 16 bulan itu termasuk dihabiskan untuk mengumpulkan biaya dari para donatur (selain dari Pontjo),latihan dan menulis materi lagu hingga menunggu jadwal studio kosong ketika Tri Angkasa digunakan oleh pihak lain .

Proyek ini betul-betul menguras energi dan stamina.Gipsy yang terdiri dari Keenan,Roni,Abadi,Chrisye dan Oding tidak tampil sendirian.Sederet pemusik lainnya mendukung performa mereka di bilik rekam.Ada Trisutji Kamal,pianis yang juga ikut membuat arransemen.Kelompok Saraswati Bali yang dipimpin I Gusti Kompyang Raka,juga paduan suara Rugun Hutauruk dan Bornok Hutauruk serta sederet chamber music yang terdiri atas Fauzan,Suryati Supilin,Seno pada biola.Sudarmadi pada cello,Amir Katamsi pada kontra bas,Suparlan pada flute serta Yudianto pada oboe dan clarinet.

Rekaman Guruh Gipsy fase pertama berlangsung dari Juli 1975 hingga Februari 1976 dan berhasil menyelesaikan sebanyak 4 komposisi yaitu Geger Gelgel,Barong Gundah,Chopin Larung  dan sebuah komposisi yang belum diberi judul tapi kemudian tidak jadi dimasukkan dalam album.

Lalu rekaman Guruh Gipsy fase 2 berlangsung  dari Mei hingga Juni 1976 yang menghasilkan 3 lagu masing masing Djanger 1897 Saka,Indonesia Maharddhika dan Smaradhana.Pada fase ini ada 3 komposisi yang direkam lagi dan disempurnakan yaitu Barong Gundah,Chopin Larung dan Geger Gelgel.

Menurut peñata rekamannya Alex Kumara dalam proses perekaman “Indonesia Maharddhika” dan “Geger Gelgel” termasuk sulit penggarapannya secara teknis,karena begitu banyak bunyi-bunyian yang harus direkam  serta jumlah pemainnya yang mencapai 25 orang hingga studio berukuran 50 meter persegi terasa begitu sesak dan pengap.

Namun,kendala ini tak membuat satu pendukung pun yang menyerah.Mereka bagaikan pejuang yang tengah berjuang di medan laga.

Penempatan microphone pun harus tepat di tengah sesaknya studio Tri Angkasa.

Lagu “Indonesia Maharddhika”misalnya membutuhkan proses dubbing berupa pengisian suara gitar elektrik ,keyboard,piano elektrik dan synthesizers sebanyak 200 kali.Sesuatu yang pasti tak akan ditemui pada proses perekaman di zaman sekarang yang telah didukung teknologi mutakhir.

“Beruntunglah pemusik sekarang yang tertolong oleh kemudahan teknologi.Dulu saat harus mengadopsi banyak bunyi-bunyian keyboard dalam berbagai layer harus melakukan overdub ratusan kali”jelas Abadi Soesman.

Keenan Nasution dan Chrisye menjadi vokalis utama dalam Guruh Gipsy.Keenan membawakan Indonesia Maharddhika dan Geger Gelgel.Chrisye menyanyikan Chopin Larung dan Smaradhana.Sementara pada lagu “Djanger1897 Saka dinyanyikan secara bergantian oleh Keenan dan Chrisye.

Album Guruh Gipsy ini  lalu dilepas ke masyarakat dan dijual seharga Rp 1.750 yang disertai semacam scrap book yang  dimaksudkan untuk bertutur perihal ikhwal asal-usul lagu dan proses kreatif yang menyertai penggarapan Guruh Gipsy.

Sampul album Guruh Gipsy berlatar warna coklat tua dengan tagline : kesepakatan dalam kepekatan.Maksudnya album ini merupakan sebuah karya yang dihasilkan dari sebuah kesepakatan di dalam masa yang penuh kepekatan.Lirik lagu seperti “Geger Gelgel sebetulnya adalah bentuk keprihatinan Guruh sebagai penafsir lirik terhadap keadaan negeri tercinta ini.Simaklah liriknya ini :

Dulu di Gelgel pernah geger namun tak segeger hatiku Hasrat hati ingin membeber segala peri-laku palsu

Degup jantung irama Batel bagai derap pasukan Gelgel Menentang penjajah angkara penindas hak dasar manusia

Wahai kawan nyalangkan matamu Simaklah dalam babad moyangmu

Di Gelgel pernah geger semangat suci luber Kepasuan tersebar Orang batil tercecer-cecer Geger Gelgel – Gelgel geger, di Gelgel geger

Hatta nasib rakyat jelata yang bukan ahli berbicara

 

Tapi hatinya bersuara menuntut hak alam merdeka

Kaum sudra dipermainkan oleh muliawan gadungan Hati tercekam suasana ngeri waswas meraja-lela

Wahai kawan jangan engkau lengah Ketidakadilan harus musnah

Singkirkan cadar ragu singsingkan fajar baru Mari kita bersatu du dalam setiap nafasmu Menyingkap dan menelanjangi adegan palsu

membahas sangkakala menyibak mega raya Menyongsong bahagia moga sirna duka derita janji Sang Hyang Maheswara niscaya ‘kan nyata

Demikian juga lagu “Chopin Larung” dan “Djanger 1897 Saka” yang menyitir tentang kontaminasi budaya yang terjadi di kantung kantung budaya Indonesia seperti di Bali.Simaklah lirik “Djanger 1897 Saka” dibawah ini :

Dulu memahat buat menghias pura (-puri) dulu menari dengan sepenuh hati Sekarang memahat untuk pelancong mancanegari Sekarang menari turut cita turis luar negeri

Tari Legong jaman masyhurnya di Saba (-Kedaton) dipersingkat demi selera penonton Wingit barong dan tari keris sering sekedar tontonan turis kekhusukan upacara melins sering terganggu jepret lampu blitz.

Onde-onde dari Cisalak, berkonde Jawa rambut disasak Ondenya masakan Semarang, konde sasakan mode sekarang

Art shop megah berleret memagar sawah ( Cak he he ) Cottage mewah berjajar dipantai indah Karya – cipta nan elok – indah ditantang alam modernisasi Permai alam mulai punah karena gersang rasa mandiri

Boleh saja bersikap selalu ramah (-tamah) bukanlah berarti bangsa kita murah Kalau kawan tak hati-hati bisa  punah budaya asli Kalau punah budaya asli harga diri tak ada lagi (harga diri tak ada lagi maka tak dapat berbangga hati)

 

 

Selain itu ,pada sampul Guruh Gipsy tertera kaligrafi Dasabayu, yang terdiri atas 10 aksara Bali dengan arti tertentu yaitu  I-A (kejadian, keadaan), A-Ka-Sa (kesendirian,, kekosongan), Ma-Ra (baru), La-Wa (kebenaran), dan Ya-Ung (sejati).Menurut Guruh Soekarno Putera,himpunan kesepuluh aksara itu pada zaman dahulun kala di Bali memberikan semacam  mukjizat bagi yang mempercayainya. Secara keseluruhan aksara-aksara itu bermakna bahwa dengan keadaan yang kosong barulah akan timbul kebenaran yang sejati.

Menariknya lagi,Guruh yang terpengaruh Ronggowarsito mengabadikan nama-nama personil Guruh Gipsy dalam barisan lirik lagu “Indonesia Maharddhika” :

Om awignam mastu

DING Aryan ring sasi karo

ROhini kanta padem

NIshite redite pratama

KIlat sapte tusteng padem

NANte wira megawi plambang

Aku dengar deru jiwa

BA dai badai mahaghora

DI Nusantara Raya

Cerah gilang gemilang

Harapan masa dating

Rukun dama imulia

Indonesia tercinta

Selamatsejahtera

GUnung langit samudera

RUH semestamemuja

Rukun damai mulia

Indonesia tercinta

Menjelang akhir tahun 1976  album Guruh Gipsy dirilis ke pasaran.Tapi tak semua orang mengenal dan menyimak karya kolosal ini.Namun siapa sangka,3 dasawarsa berselang ,album Guruh Gipsymenjadi album yang paling dicari-cari orang,Bukan hanya di Indonesia,melainkan juga di berbagai belahan dunia termasuk Amerika,Inggeris hingga Jepang..Bahkan beberapa radio di Kanada,Swiss dan Belanda memutar Guruh Gipsysekaligus mengulasnya dalam apresiasi musik yang mendalam.Pada akhirnya Guruh Gipsy menjadi salah satu milestone perjalanan musik Indonesia.Tak berlebihan jika album ini diibaratkan album “Sgt Pepper’s Lonely Heart’s Club Band” nya The Beatles.Sebuah album yang membuat revolusi dalam musik pop.

Golden Wing adalah band Palembang di era 70an yang sempat masuk industri musik Indonesia.Tokoh utama Golden Wing adalah Kasim yang kemudian menuliskan namanya menjadi Karel Simon.

Cikal bakal munculnya Golden Wing bermula dari band yang bernama Pionir yang telah malang melintang di kancah kugiran sejak akhir era 60an.Di  akhir tahun 1970 band Pionir ini bubar.Penyebabnya  karena sebagian besar personilnya memilih untuk melanjutkan pendidikan,  Musiardanis  (drums) pindah ke Yogyakarta,  Ferdinand Tuyu (drums)  pindah ke Jakarta, dan Ismet Soewondo (vokalis)  kuliah  di Fakultas Tehnik Unsri. Sementara Fit Kien (gitar), Karel Cassidy (gitar)  dan Bakar  (bass) bercokol  di  Black Stones. Tak lama berselang  pabrik kecap di Palembang bermerk Tong Hong, berniat membentuk band.Mereka lalu membeli peralatan band komplit seraya  merekrut Fit Kien dan Karel Cassidy. Inilah kisah awal berdirinya  Golden Wing .

Entah kenapa band ini memilih nama Golden Wing sebagai identitas bandnya.Awalnya Golden Wing hanya berstatus sebagai band pengiring saja yang terdiri atas  Fit Kien (lalu ganti nama menjadi Peter Kenn), Kun Lung (Bass), Tarno (drums), dan Karel Cassidy (yang ganti nama menjadi Karel Simon) yang kini tak hanya memetik gitar tapi tampil sebagai vokalis utama

            Di tahun 1972  1973 formasi  Golden Wing  berubah menjadi  Kun Lung (ganti nama menjadi Ikhsan), Carel Simon, Adhi Mantra (keyboard),  Victor Eky (drums) serta Peter Kenn.

 Pada tahun 1974, Golden Wing pun merilis  debut album bertajuk  Mutiara Palembang yang akhirnya menetaskan hits seperti: Mutiara Palembang , Give Me, dan Hanny.Di tahun 1974 Golden Wing dipercayakan sebagai band pembuka konser God Bless yang saat itu didukung oleh Deddy Stanzah m,antan bassist The Rollies dan Happiness.

 Setahun kemudian, di tahun 1975, Golden Wing merilis album Pop Melayu. Di album ini muncullah personil baru yang dating dari Yogyakarta yaitu Areng Widodo.Setelah merilis album Pop Melayu formasi Golden Wing mulai goyah.Adhi Mantra ke Jakarta direkrut Rinto Harahap bergabung dalam band Lolypop.Areng Widodo balik ke Yogyakarta dan membentuk Kelompok Kampungan bersama Bram Makahekum dan Sawung Djabo.

Lalu  Carel Simon bersama  isterinya, Hera Sofyan, dan S. Tarno membentuk  No Wing.Sebelum berpulang pada tahun 2007 Carel Simon lebih banyak merilis album solo beImageing

Koes Bersaudara (Foto Handiyanto)

Koes Bersaudara (Foto Handiyanto)

Koes Bersaudara adalah kelompok musik bersaudara yang terdiri atas Koestono/Tonny (gitar,vokal),Koesnomo/Nomo (drums),Koesjono/Jon (vokal,gitar) dan Koesrojo/Jok (vokal,bass).Mereka adalah putera dari Koeswojo,seorang ambtenaar yang hobi musik berasal dari Tuban,Jawa Timur.

Terbentuk pertamakali di tahun 1960 dengan menyertakan Koesdjono alias John Koeswojo yang paling tua.tapi setelah merilis single pertama di perusahaan rekaman Irama milik Soejoso karsono, John meninggalkan Koes Bersaudara.Sejak itulah Koes Bersaudara berbentuk kuartet.

Koes Bersaudara saat itu tampil dengan pengaruh  musik yang kuat dari The Everly Brothers dan Kalin Twin,dua grup bersaudara yang menampilkan harmoni vokal secara duet.Ini kemudian diterapkan lewat duet vokal antara Jon dan Jok Koeswojo.

Memasuki paruh 60an British Invasion melanda dunia, Koes Bersaudara pun mulai terpengaruh The Beatles.Bahkan Koes Bersaudara juga ikut menyanyikan lagu-lagu The Beatles yang akhirnya membawa mereka masuk ke dalam tahanan di Glodok.

Beberapa hari sebelum terjadi Gerakan 30 September yang dilakukan PKI,Koes Bersaudara dibebaskan dari penjara.Pengalaman pahit yang mereka alami dalam penjara Glodok lalu diabadikan dalam album “To The So Called The Guilties” yang dirilis oleh label Mesra milik Dick Tamimi lewat lagu seperti “Di Dalam Bui”.

Gusti Udwin Haryono adalah nama lengkap drummer Uce Haryono yang dilahirkan 30 Maret 1960.Dia adalah salah satu drummer terbaik Indonesia.Bisa memainkan musik apa saja mulai dari pop,rock ,blues hingga jazz sekalipun.

Sejak tahun 1979 Uce Haryono sudah diajak pula bergabung di band Swara Maharddhika yang dibentuk Guruh Soekarno Putera dan Junaidi Salat.Di tahun yang sama Uce juga menjadi drummer untuk kelompok Chaseiro.Kakak kandung Uce,Edwin “Eddy” Hudioro adalah mahasiswa Ekonomo UI yang menjadi peniup flute Chaseiro.Eddy kemudian mengajak Uce untuk membantu rekaman Chaseiro yang perdana di Musica Studios.Walhasil Uce yang kemudian terdaftar sebagai mahasiswa Universitas Pancasila itu juga lebih dikenal sebagai anggota Chaseiro.

Permainan drum Uce yang halus,artistik dan akurat merupakan daya pikat untuk sebuah rekaman.Inilah yang menghantar Uce menjadi session drummer paling sibuk di sepanjang dekade 80-an hingga 90-an.

Cobalah bongkar kaset-kaset era 80-an,maka anda akan menemukan nama yang itu-itu juga : Uce Haryono.Mulai dari Chaseiro,Guruh Soekarno Putera,Chrisye,Iwan Fals,Vina Panduwinata,Ebiet G Ade,Freddie Tamaela,Ruth Sahanaya dan masih sederet panjang lagi.Bahkan Uce tergabung dalam begitu banyak band diantaranya Black Fantasy,Karimata,Spirit,Kasran Frontal hingga Bayou di era 90an.

Uce Haryono meninggal dunia pada 4 Mei 2011 karena serangan jantung.

 

 

drummerImage

jsopTerlahir dengan nama Surjo Prajogo pada  14 September 1954 Yockie Surjoprajogo  tercatat pernah tergabung dalam berbagai grup rock seperti Bigman Robinson, Double O,Giant Step, Contrapunk,Prambors Band dan Jaguar, meski pada akhirnya Yockie memang lebih dikenal khalayak ketika ikut bergabung dalam kelompok musik rock tertua negeri ini God Bless.

Corak permainan keyboardnya dianggap memberikan kontribusi dalam karakter musik God Bless.
Dengan menyisipkan aksentuasi berbau klasik, terutama membaurkan bunyi-bunyian piano dan Hammond B-3, orang sudah bisa menebak karakter God Bless, walaupun pada saat itu seperti lazimnya semua grup rock yang berkecambah di Indonesia lebih banyak memainkan repertoar grup-grup mancanegara seperti Deep Purple, Yes, Edgar Winter, Spooky Tooth, Kansas dan banyak lagi.

Ketika God Bless merilis album perdana bertajuk God Bless (Pramaqua,1976) , gaya permainan keyboard Jon Lord (Deep Purple), Rick Wakeman (Yes), maupun Tony Banks (Genesis) menyelinap dalam pola permaian Yockie Soerjoprajogo.

Album God Bless ini patut dicatat sebagai album rock Indonesia yang tampil utuh. Karena sebelumnya, tercatat banyak grup rock Indonesia yang telah masuk dunia rekaman, tapi harus kompromi dengan selera pasar dengan memainkan musik pop, misalnya Freedom of Rhapsodia, The Rollies, Aka, Rasela, dan masih banyak lagi.

Di tahun 1977, sosok Yockie Soerjoprajogo berada di jalur musik pop. Saat itu Yockie Suryoprayogo menjadi arranger album Lomba Cipta Lagu Remaja yang diadakan Radio Prambors Rasisonia. Gebrakan Yockie yang menata aransemen lagu seperti Lilin Lilin Kecil (James F Sundah) dianggap sebagai suntikan darah baru dalam industri musik pop yang saat tengah dilanda booming lagu-lagu pop dengan akord sederhana dan tema lirik yang cenderung cengeng dan mendayu-dayu. Di tahun yang sama Eros Djarot menggamit Yockie untuk menggarap album soundtrack film Badai Pasti Berlalu bersama dengan sederet nama lainnya seperti Chrisye, Berlian Hutauruk, Debby Nasution, Keenan Nasution, dan Fariz RM.

Album ini pun menjadi fenomenal terutama dari sisi tata musik yang menyajikan akor yang lebih luas serta penulisan lirik yang lebih puitis. Menariknya lagi di album ini fungsi instrumen keyboard menjadi dominan. Bunyi-bunyian keyboard ini memang terasa orkestral dan simfonik, sesuatu yang sering kita dengarkan pada repertoar grup seperti Genesis dan Yes. Gaya aransemen musik seperti ini lalu berlanjut ketika Yockie Soerjoprajogo menggarap album-album solo Chrisye seperti Sabda Alam, Percik Pesona, Puspa Indah Taman Hati, Pantulan Cita, Resesi, Metropolitan, dan Nona yang sering disebut orang sebagai pop kreatif. Terminologi ini jelas keliru, tapi bisa dianggap sebagai pembeda dengan jenis musik pop yang dihasilkan Rinto Harahap, Pance Pondaag, atau yang sejenis.

Tahun 1984 merupakan saat terakhir kolaborasi Yockie dan Chrisye. Tetapi Yockie yang juga cukup produktif merilis sederet album solo, masih tetap bermain di wilayah pop dengan menggarap album-album dari berbagai penyanyi, mulai dari Dian Pramana Poetra, Keenan Nasution, Vonny Sumlang, Titi DJ, Andi Meriam Mattalatta, dan masih banyak lainnya.

Tiga tahun kemudian, Jockie bergabung lagi dengan God Bless. Muncullah album Semut Hitam (Logiss Record,1987) dengan konsep musik rock yang lebih segar. Di era ini juga memperlihatkan ketertarikan Jockie kembali menjamah musik rock. Ia mulai ikut menggarap berbagai album rock sebagai komposer, player, dan music director pada album album milik Mel Shandy, Ita Purnamasari, Ikang Fawzy, hingga Nicky Astria.

Tampaknya Yockie cukup betah bergabung bersama God Bless antara lain ikut mendukung album raksasa, Story of God Bless dan Apa Kabar ?. Di saat bersamaan, Yockie membagi dirinya dalam proyek Kantata Takwa yang digagas maesenas, Setiawan Djody. Di komunitas Kantata Takwa ini, Yockie bertemu dengan dimensi musik yang berbeda. Di sini dia berbaur dengan sosok-sosok seniman mulai dari WS Rendra hingga Sawung Jabo. Ada dialektika baru dalam karya-karya Yockie seperti terlihat pada lagu Orang Orang Kalah, Kantata Takwa, Kesaksian, Paman Doblang, Air Mata, Rajawali, Nocturno, dan Balada Pengangguran.

Bersentuhan dengan Setiawan Djody, Iwan Fals, dan WS Rendra menghasilkan pengendapan- pengendapan baru dalam intuisi bermusik Yockie.

Di luar Kantata Yockie pun ikut mendukung kelompok Swami bahkan membentuk kelompok Suket di tahun 1992 bersama sederet pemusik asal Surabaya Didit Saksana, Rere,Eddy Kemput dan Naniel. Suket memang memiliki persamaan dengan Kantata Takwa maupun Swawi terutama ketika mengangkat tema-tema yang bersinggungan dengan problematika sosial. Bahkan di tahun 2003 Yockie bereksperimen menggabungkan musik dan teater dalam format rock opera yang didukung Iwan Fals, Renny Jayusman hingga Teater Koma.